Friday, 25 March 2016

Zen Ingin Bidadari



Kalau ada orang yang tidak menyukai Lebaran, barang kali cuma Zen-lah satu-satunya. Dia bukan anti pada hari raya yang justru paling ditunggu oleh sebagian orang itu.  Sebab biasanya selain digunakan untuk merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh berjuang, ada juga sebagian lagi yang menggunakanya untuk memamerkan seluruh ‘kemampuan’ ekonominya.

        Apa karena Zen malas puasa? Tidak juga. Dia justru sangat rajin beribadah dalam bulan suci itu. Dia jadi jauh lebih sabar, tak lagi gampang marah. Dia juga jadi lebih rajin bangun pagi. Padahal biasanya setelah Ibu kosan berkali-kali mengetuk pintu kamar, baru anak muda itu bangun. Dia pun jadi lebih sering mengunjungi mushola yang tak seberapa jauh dari tempat kosnya.

       “Hallo Mas Zen. Tumben berangkat pagi?”
       “mau taraweh ya, Mas?”
“Nanti ikut jadi panitia zakat mau, ya!”
Begitulah sebagian kalimat yang mengomentari perubahan Zen di bulan puasa. Lantas? Ya, lantas apa yang membuat anak muda itu jadi tak menyukai lebaran?

“Bukan lebarannya yang aku gak suka,” kata Zen suatu hari pada teman-temannya, ”tapi akibat yang harus kutanggung.”
Teman-teman Zen menggeleng kepala tak mengerti.

Mana bisa Lebaran membuat orang menanggung akibat yang tidak mengenakan? Apa pikiran Zen sudah keblinger? Barangkali karena lebaran Cuma sehari bukan sebulan, sehingga Zen tidak bisa bersenang-senang sepuas-puasnya? Begitu pikir teman-temannya, yang bukan kali ini saja melihat perubahan Zen, tapi perubahan itu tidak sedrastis seperti sekarang.

Tak jarang muncul perdebatan lumayan panas di ujung gang, yang tak jauh dari tempat Zen tinggal. Anak muda itu memang sudah lama berdiam disitu. Sejak dia meninggalkan kampung halamannya di Lampung Selatan dan menginjakkan kaki di Jakarta, sehingga dia dapat pekerjaan di sebuah perusahaan film sebagai penata artistik.

“Jangan-jangan Zen ikut aliran yang gak bener,” kata seorang temannya,“soalnya sekarang kan susah membedakan yang putih dengan yang abu-abu.”

“Atau dia sedang menyebarkan aliran baru, tapi masih grogi,” tebak teman Zen lainnya, “namanya juga masih baru, ya cari form-nya yang tepat kan susah.”

“Kalau betul, kita harus memberi peeringatan jangan sampai dia tersesat. Kasihan, bagaimana dia teman kita.”
“Barangkali pengeluarannya jadi lebih besar kalau Lebaran, sehingga dia tidak bisa menabung,”
“Apa karena setiap lebaran dia mesti membagi-bagikan duit kepada anak-anak gang sini, terus dia merasa rugi?” serobot yang lain.
“Hus! Jangan sembarangan nuduh gitu.”
Menjelang Magrib perdebatan berhenti sendiri, tak ada keputusan apa- apa. Tak ada yang mulai berani bertindak untuk memperbaiki keadaan. Semuanya merasa sungkan karena Zen, meskipun bersikap baik, dalam hal yang satu ini tertutup bukan main.
--><--
Mendekati Lebaran, Zen makin gelisah. Tingkahnya jadi serba kacau. Selalu saja ada yang salah kalau dia melakukan sesuatu. Jika tidak kekurangan, pasti kelebihan. Pokoknya tidak ada yang pas.
Meskipun begitu Zen tetap puasa dan rajin ke mushola. Cuma kalu biasanya setelah tarawih Zen menyempatkan diri ngobrol-ngobrol dengan jamaah lain, belakangan ini terutama mendekati akhir-akhir puasa, dia langsung balik. Lalu mendekam dalam kamar sampai pagi. Esoknya dia berangkat kerja seperti biasa. Tapi keriangan Zen nyaris hilang. Kalau bicara seperlunya saja, dan nyata sekali sekedar basa-basi.

“Ini gak bisa didiamkan!” kata seorang teman yang paling sering ditraktir nonton oleh Zen. “Dia bukan Cuma teman akrab kita, tapi juga warga teladan gang ini. Coba bayangkan, siapa yang paling rajin ngasih sumbangan kalau ada acara agustusan? Atau kalau ada acara Maulid Nabi? Dia bukan Cuma nyumbang dana, tapi pikiran dan tenaga.”

“Betul. Siapa yang mula-mula bikin kegiatan buat anak-anak muda sini yang doyan ngobat dan teler? Siapa yang pertama bikin kegiatan teater? Siapa yang ngadain tenis meja? Siapa yang jadi pelopor tawuran antar kampung?”

“Hus! Yang terakhir jangan dibawa-bawa dong! Lagian kalau itu kan yang melopori bukan dia”
“Fitnah itu!”
“Maaf...maaf...kelepasan, Man.”
“Belum lagi kalau ada tetangga yang kena musibah, dia juga orang yang selalu turun tangan lebih dahulu.”
“Jadi gimana?”
“Kita harus tanya dia. Kita korek sedalam-dalamnya, apa yang membuat dia bersikap begitu. Kalau tahu sebabnya, maka urusannya jadi gampang.”
“Kalau dia gak mau?”
“Kita paksa. Kalau perlu dengan kekerasan supaya dia mau mengaku. Jangan takut salah, sebab tujuan kita benar. Gue yakin semua orang mendukung.”

Akhirnya setelah melalui perdebatan yang cukup rumit dan sempat bikin urat leher tegang, disepakati untuk melakukan investigasi diam-diam, sebab kalau terang-terangan, jangan-jangan Zen malah tersinggung.

Ada yang bertugas mengamati Zen selama 24 jam penuh. Tentu tak berlaku kalau Zen ke toilet atau ke kamar mandi. Ada yang mencatat siapa-siapa saja yang datang bertamu ke rumahnya. Ada yang mencatat apa saja yang diucapkan Zen, bagaimana emosinya, tekanan suara sampai kata yang paling sering keluar dari mulutnya. Ada juga yang bertugas menyelidiki warna-warna pakaian yang paling sering dikenakan Zen.

Bagaimana dengan Zen? Anak itu tentu saja sangat ngeh, kalau dia menjadi objek penelitian teman-temannya. Tapi pikirannya terpusat pada hari Lebaran yang tinggal hitungan jari.

Di ruangan kamarnya yang ukuran tiga kali tiga meter itu sudah bertumpuk berbagai kaleng makanan. Dari yang isinya biskuit biasa sampai cemilan untuk orang-orang kaya. Belum lagi botol-botol sirup berjejer dengan berbagai merek dan warna. Sepuluh gepok uang recehan seribu yang baru saja ditukarnya, tak lupa dia taruh di atas meja kecil, di samping televisi. Beberapa bungkus pakaian untuk kerabatnya pun sudah dia siapkan. Pokoknya serba komplit.

“Apa pun yang terjadi, aku tidak mau!” tegas Zen pada Partam.
Kebetulan sore itu, Partam teman sekolah sekaligus tetanga di kampungnya yang sama-sama merantau ke Jakarta, berkunjung ke tempat kos Zen untuk mengajak pulang bersama.
“Lantas aku harus bilang apa sama orang tuamu?” tanya Partam.
“Terserah!”
“Jangan gitu dong, Zen,” Partam merendahkan tekanan suaranya. Dia tahu Zen orang yang baik dan gampang mengalah. Tapi jika sudah menyangkut urusan pulang kampung di saat Lebaran, maka jangan harap mau berkompromi, “ya sudah, kalau kamu maunya seperti itu, sebaiknya aku juga tidak pulang,”
“Kamu harus pulang!” kata Zen.
“Kenapa harus?”
“Supaya ada yang bisa kasih laporan sama orang tuaku.”
“Kan, bisa telepon.”
Zen menggeleng.
“Tuh, aku sudah sediakan semuanya!” Zen menunjukan barang-barang untuk bingkisan Lebaran yang ada di kamarnya, “ongkos kamu, juga oleh-oleh buat Emak dan Bapak,”

Partam diam saja. Tampangnya dipasang lebih serius dari sebelumnya. Dia perhatikan wajah Zen dengan seksama, layaknya bocah SD di Planetarium TIM, sedang mengamati benda luar angkasa yang belum pernah dilihat sebelumnya. Sementara yang diperhatikan pasang tampang cuek.

“Zen. Sebetulnya apa yang bikin kamu segan pulang?”
Zen menatap Partam. Dia menarik nafas sebentar.
“Kalau sudah menikah!” jawab Zen tegas, “kalau belum, orang tuaku pasti selalu menodong dengan pertanyaan, mana calon istrimu? Si Anu saja yang lebih muda sudah punya momongan, masak kamu menikah saja belum. Kamu mau Emak dan Bapak meninggal dulu, baru kalau pulang bawa istri?”

Jujur! Sebenarnya Zen tak mau bercerita, terutama jika menyangkut alasan yang menyebabkan dia menolak merayakan Lebaran dia kampung.
“Dari dulu juga bilangnya mau cari istri, mau menikah. Tapi usahanya mana? Mencari saja tidak pernah.”

Tidak pernah mencari? Partam salah besar. Seperti umumnya anak muda lain, Zen pun pernah beberapa kali berdekatan dengan gadis-gadis, meski tidak bisa disebut pacaran. Zen bukan menolak, apalagi anti pacaran. Dia mendekati gadis-gadis itu untuk mengamati dan menilai, apa ada diantara mereka yang cocok untuk dijadikannya sebagai istri.

Dia pernah mendekati Lia, tetangga kosnya yang masih keturunan Manado Jawa. Anak baik dan perhatian. Pendidikannya lumayan dan kerja kantoran pula. Zen rajin menegurnya dengan ramah, dan gadis itu tak kalah ramahnya terhadap Zen. Tapi baru beberapa minggu Zen sudah mundur. Pasalnya Lia pernah mengatakan, entah sengaja menyinggung atau tidak, bahwa dia bercita-cita mencari suami yang punya kerja lebih mapan, ketimbang dirinya yang Cuma pegawai kantor biasa.

“minimal direktur!” tegas Lia.
Untungnya waktu itu Zen belum mengungkapkan apa-apa, terutama yang berkaitan dengan cinta. Jadi dia tenang-tenang saja dan tidak merasa ditolak.

Lainnya. Zen pernah juga diam-diam menaruh hati pada Tika. Juga anak kos yang peranakan Bandung, lulusan Fakultas Hukum Unpad dan suka bergaya tomboy. Orangnya putih dan mungil. Cerdas dan punya jiwa sosial yang tinggi. Tapi belum juga ke tingkat pedekate, Zen sudah ambil langkah balik. Apalagi soalnya kalu bukan Tika yang aktivis itu ternyata juga feminim tulen, yang ogah gampang tahluk dengan kaum pria. Belum lagi sarat lainnya, mengharuskan laki-laki pendamping hidupnya mesti seorang aktivis, yang berfikir progresif revolusioner. Wuah berat!

Ada juga Wenda, Ayu, Sarah, Nina, Fifi, Lidya dan seabrek nama lain. Tapi hasinya sama saja. Kalau bukan karena masalah materi, pasti yang dicari gadis-gadis itu tidak jauh dari kesenangan yang kasat mata.

Jangan-jangan Zen terlalu mendiskreditkan mereka? Atau Zen kurang pede lantas bilang mereka bukan tipe Zen? Salah, salah dan salah! Zen suka dengan gadis yang enerjik, kreatif, pintar. Dia juga tidak peduli kalau gadis itu aktifis seperti si Tika, atau pemain sinetron kelas kacang macam Ayu. Yang jadi masalah ialah ada sesuatu yang Zen dari mereka, dan itu tidak ada. Zen tidak menemukannya.

Ah. Kamu sok idealis! Begitu komentar teman-teman yang menganggap Zen terlalu pemilih. Tetapi dengan enteng Zen menjawab, ini bukan soal idealis, ini masalah prinsip!
“betul kan yang aku bilang,” suara Partam menyerentak Zen, “kamu memang tidak pernah mencari?”
Bukannya menjawab, Zen malah tiba-tiba menengok ke arah jam weker di sidut meja yang menunjukan pukul stengah lima, lantas buru-buru berdiri. Lalu memandang keluar jendela lewat celah krei yang dia buka sedikit. Matanya memicing, tak ubahnya kucing yang sedang mengamati buruan.

“kamu bukan....”
“stttt....” zen menyuruh Partam diam.
Partam dengan penasaran ikut-ikutan mengintip keluar. Tapi matanya yang dilapisi lensa minus empat tak menangkap siapa-siapa, atau kejadian aneh apa pun. Selain seorang perempuan tua yang keluar dari rumahnya.


Zen terus menatap keluar jendela. Tingkahnya betul-betul menggelikan. Kadang seperti orang yang mendadak kena sesak nafas, kadang juga mirip orang mendapat tanah warisan tujuh hektar. Tak lama mendengar Zen mengeluh pelan, “ah, tidak keluar juga.”
“ada apa?”
Zen menggeleng lemah, lantas duduk lagi.
“kamu belum menjawab pertanyaan tadi,” desak Partam, “istri?”
“aku belum dapat yang pas!” jawab Zen singkat.
“sebetulnya tidak masalah kamu nikah dengan siapa dan bagaimana bentuk mempelaimu. Yang penting waktu Lebaran kamu tak pulang sendiri, tapi bawa gandengan.”
Zen menggeleng lagi.
“jadi maunya yang bagaimana?”
“aku ingin bidadari.”

Partam bengong. Tak lama sobat kental Zen itu tertawa, ngakak luar biasa. Partam sadar betul, dia bukan orang yang punya pendidikan tinggi. Namun rasanya tidak perlu menjadi sarjana untuk mencerna kalimat Zen yang jauh dari masuk akal tadi.
“Memangnya ada Bidadari yang otaknya masih waras, mau sama kamu?” ujar Partam setelah meredakan tawanya.
“Ada”
Kali ini Partam membelalak. Bukan karena heran, tapi sama sekali tak menduga kalu isi kepala teman sekampungnya itu makin tak beres.
“Bidadari itu otaknya masih waras seribu persen,” kata Zen mantap.
“Kamu serius?”
“Seharian ini aku menunggu dia, tapi gak muncul-muncul. Kata ibunya, baru saja kamu lewat jendela tadi, Bidadari itu memang pemalu dan jarang mau keluar rumah kalau tidak penting sekali.”
“Ooo...Jadi kamu sebut Bidadari itu putri ibu kos?”
Zen mengganguk.
“Sejak kapan kamu mengincar dia?”
“Sejak aku tidak menemukan apa yang kucari.”
“Dan lantaran frustasi, kamu terpaksa mendekati anak itu?”
“Bukan terpaksa. Aku sudah mengamatinya dia semenjak dia datang. Rasanya Bidadari itu cocok buatku. Kelihatannya kali ini aku sudah menemukan yang kucari, ”Zen menjelaskan dengan penuh semangat, “kamu tahu, aku anak satu-satunya. Jadi aku harus memberikan yang terbaik buat orang tuaku.”

Zen ingat. Gadis yang dipanggil Bidadari itu muncul di rumah ibu kos sehari menjelang puasa. Wajahnya manis, meski cara berpakaiannya masih dibilang konvensional. Dia gemar mengenakan jilbab dengan motif bunga kecil-kecil. Gamisnya lebar dan menjuntai ke bawah, mirip perempuan-perempuan Arab. Mukanya senantiasa tertunduk jika berpapasan dengna orang lain. Dan tangannya yang selalu memegang sehelai saputangan, tak pernah lepas menutupi sebagian mukanya.

Semula Zen bertanya-tanya, siapa gerangan gadis cantik itu. Tapi setelah tanya sana-sini, menggali informasi dari si A, B dan C, Zen tahu, kalau makhluk cantik bernama Bidadari itu merupakan anak bungsu ibu kos. Sejak lama menempuh pendidikan di sebuah pesantren di Jawa Timur. Dia datang berkunjung , selain karena kangen dengan keluarganya, juga ingin sesekali merayakan Lebaran di Jakarta.

“Cuma sayang,” Zen menurunkan tekanan suaranya, bahkan ucapannya lebih terdengar seperti keluhan. Rasa optimisnya yang tadi meledak-ledak tiba-tiba menguap, “menurut desas-desus mata Bidadari tidak bisa melihat dengan baik, itu sebabnya dia jarang keluar. Dia juga tak bisa bicara.”

Partam menyadari kalau sahabatnya masih menyimpan keraguan, cepat-cepat mengingatkan.
“Aku orang bodoh, Zen. Tapi sangat percaya, perjalanan waktu bisa menjelaskan mana Bidadari asli dan mana yang imitasi, ”ujar Partam dengan simpati, ”selamat berjuang!”
“Sebelum Lebaran tiba, aku sudah harus mengambil keputusan!” kata Zen dengan mantap, “melamarnya atau aku tidak bakal menikah sampai mendapatkan Bidadari pengganti.”


Tiga hari menjelang hari raya Idul Fitri, saat orang-orang sibuk menyiapkan segala keperluan untuk menyambutnya. Zen malah mendatangi rumah ibu kos ditemani Partam. Pakaiannya rapi, celana panjang hitam dipadu dengan baju koko berwarna biru muda. Kopiah yang baru tadi siang dia beli, terlihat bertengger di kepalanya.
Setelah mengucap salam dan basa-basi sekedarnya. Zen pun kini berhadapan dengan Ibu kos. Perempuan tua itu didampingi salah seorang kakak lelaki Bidadari, karena bapaknya sudal lama meninggal. Bidadari sendiri tidak kelihatan, mungkin memang sengaja tidak ikut hadir.
Zen yang tidak mau lama-lama, apalagi sidah kenal baik dengan keluarga itu, langsung mengutarakan niatnya. Ibu kos tentu heran. Sebab apa yang dilakukan Zen terbilang mendadak dan kurang lazim. Ibu itu mengira, karena besok Idul Fitri, maka  Zen datang untuk bersilaturahim karena akan pulang kampung. Ternyata kedatangan Zen untuk melamar anaknya. Namun setelah diberi penjelasan, baru Ibu kos mengerti.
“Jadi Nak Zen serius?” tanya Ibu kos lagi.
Bagaimana pun dia masih sangsi dengan kesungguhan niat Zen.
“Insya Allah, Bu.”
Kakak Bidadari nampak berbisik kepadanya. Ibu kos mengangguk perlahan. Lalu menengok ke arah Zen.
“Nak Zen sudah tahu kalau Bidadari Cuma gadis biasa? Cacat pula?”
“Sudah.”
“Masih mau?”
Dengan mantap Zen mengiyakan.
“Tidak menyesal di kemudian hari?”
“Insya Allah, tidak.”
“Tidak akan menyia-yiakan Bidadari jika nanti dia mengecewakan?”
Zen mangangguk
“Alhamdulillah. Sekarang tergantung pada Bidadari, apa dia setuju atau tidak tergantung niat Nak Zen.”
“Saya mau jawabannya sekarang!” kata Zen tak sabar.
Ibu kos percaya kalau Zen jujur dan bersungguh-sungguh. Jadi dia berpikir, apa salahnya kalau dipenuhi sedikit keinginan anak muda itu. 

 “Seandainya Bidadari tidak setuju atau menolak keinginan Nak Zen bagaimana?” tanya Ibu kos.
Zen diam.
“Zen,” bisik partam, “kalau dia menollak, kasih aku kesempatan untuk coba melamarnya, ya. Mana tahu aku lebih mujur.”
“Sssst! Teman dilarang makan teman!” bisik Zen menimpali.
“Bagaimana?” ulang Ibu kos.
“Oh..e..tidak apa-apa, bu,” jawab Zen gelagapan, “yang penting saya sudah berusaha.”
Ibu kos masuk ke ruangan dalam. Dan tidak berselang lama sudah kembali. Tanpa Bidadari.
“Ibu minta maaf,” ujar Ibu kos, nada penuh penyesalan, “Bidadari minta waktu. Mungkin habis lebaran baru bisa kasih jawaban.”
Zen lunglai. Tapi mau bilang apa?


Sebentar lagi azan Magrib. Berarti beberapa saat lagi ibadah puasa genap dijalani selama sebulan, kemudian malamnya takbiran. Tapi tak berbeda dengan kebanyakan di tempat lain, suara orang mengumandangkan takbir di sekitar tempat Zen tinggal sudah terdengar riuh, meriah dan saling bersahutan dengan bunyi beduk.

Namun ada yang berbeda. Dari kamar kos Zen malah terdengar suara siulan lagu Cinta-nya Crisye. Siapa gerangan yang bersenandung lagu cinta justru menjelang malam takbiran? Siapa lagi kalau bukan penghuninya. Sejak siang anak muda itu bahkan sudah berdandan rapi. Dan tampaknya, dia siap menebar senyum kepada siapa pun yang dijumpainya.

Sudah pasti kelakuan Zen yang mendadak berubah drastis dibandingkan sebelumnya, dan tak lepas dari pengamatan teman-teman investigatornya itu, menimbulkan lagi perdebatan seru.
“Kamu perhatikan gak tingkah si Zen? Kelakuannya benar-benar terbalik seratus delapan puluh derajat.”
“Maksudnya kalau dia jalan kakinya diatas, terus tangannya dibawah?”
“Bukan begitu. Dia kan tadinya pemurung, serba gelisah, maunya mendekam terus dalam kamar. Jangankan ngobrol bareng, negur saja paling ala kadarnya. E, sejak siang tadi aku perhatikan dia malah senyam-senyum sendiri. Malah pakai bersiul-siul segala.”
“Kok bisa, ya?”
“Apa karena dia sudah sadar, sudah kembali ke jalan yang lurus?”
Belum juga perdebatan selesai, orang yang jadi perbincangan malah ujug-ujug nongol di hadapan mereka. Wajahnya sumringah. Rambutnya tersisir rapih. Pakaiannya necis.
“Selamat berlebaran! Mohon maaf lahir batin! Saya akan pulang kampung, doakan biar selamat! Mudah-mudahan umur kita panjang, dan bisa bertemu lagi pada Lebaran berikutnya! Secepatnya saya kembali ke Jakarta, dan kita akan bersama-sama sampai Lebaran berikutnya,” begitu kata Zen.

Dia salami semua yang hadir dengan ramah dan senyum terbuka lebar. Satu dua orang malah dia peluk dengan hangat, layaknya orang yang akan berpergian jauh dalam waktu lama. Kemudian dia datangi juga tetangga kiri-kanan, depan belakang.

Setelah dirasa cukup, Zen pun melenggang dengan riang dan penuh semangat. Tangannya mengerek koper beroda berukuran besar. Lagi-lagi, semua itu tak lepas dari pengamatan orang-orang di sekitarnya. Bagaimana bisa orang yang baru kemarin murung, asik dengan dirinya sendiri, katanya tak suka dengan lebaran, kini mendadak berubah jadi sangat periang. Konyolnya lagi seolah tak terjadi sesuatu pun. Rasanya cuma perlu satu kata untuk menjelaskan semua itu : Fantastis!

Zen memang pantas bersuka hati. Semua bermula dari kejadian tadi pagi, saat dia terpaksa mendatangi rumah Ibu kos, karena tak sabar menunggu. Dia meminta Bidadari menjawab secepatnya lamaran yang kemarin dia ajukan. Zen bahkan mengancam akan terus berdiam di depan pintu rumah Ibu kos tanpa makan-minum, sampai Bidadari memberi jawaban.

Benar saja, Bidadari mau menemui Zen. Tentu ditemani ibunya. Zen  lantas sebisa mungkin membuat isyarat agar tak menyinggung perasaan Bidadari. Intinya kalau gadis itu menolak lamaran, cukup mengelengkan kepala. Tapi kalau setuju, maka Bidadari cukup mengangguk. Dantahu apa yang terjadi?
“Insya Allah. Saya menerima lamaran Mas Zen,” kata Bidadari lembut. Kemudian berlalu setelah mengucapkan salam.
Zen bengong. Zen terkesima. Suara tadi? Suara merdu tadi adalah milik Bidadari. Bagaimana mungkin? Apa Zen bermimpi? Dan mata Bidadari ternyata teramat indah. Betulkah?

Ini terlalu klise! pikir Zen. Terlalu telenovela!
Namun anak muda itu tak perduli. Dia sudah terlalu lama mencari.

Maka tak  usah heran jika dalam pelajaran pulang, setiap kali bertemu dengan siapa pun, Zen menjawab teguran mereka dengan teriakan mantap : Eureka!
Pengarang: Biru Laut
Kirimkan kisah atau pengalamanmu yang paling berkesan,
dan menginspirasi ke email
sertakan NAMA (boleh nama panggung)


Bagikan

Jangan lewatkan

Zen Ingin Bidadari
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

2 komentar

Tulis komentar
avatar
25 March 2016 at 21:56

Semangat, Zen! Di awal sempat mikir kalo ceritanya tentang Zen yang ikut aliran sesat atau semacamnya, eh ternyata ujung-ujungnya romance XD

Reply