Kalau
ada orang yang tidak menyukai Lebaran, barang kali cuma Zen-lah satu-satunya.
Dia bukan anti pada hari raya yang justru paling ditunggu oleh sebagian orang
itu. Sebab biasanya selain digunakan
untuk merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh berjuang, ada juga
sebagian lagi yang menggunakanya untuk memamerkan seluruh ‘kemampuan’ ekonominya.
Apa karena Zen malas
puasa? Tidak juga. Dia justru sangat rajin beribadah dalam bulan suci itu. Dia
jadi jauh lebih sabar, tak lagi gampang marah. Dia juga jadi lebih rajin bangun
pagi. Padahal biasanya setelah Ibu kosan berkali-kali mengetuk pintu kamar,
baru anak muda itu bangun. Dia pun jadi lebih sering mengunjungi mushola yang
tak seberapa jauh dari tempat kosnya.
“Hallo Mas Zen. Tumben berangkat pagi?”
“mau taraweh ya, Mas?”
“Nanti
ikut jadi panitia zakat mau, ya!”
Begitulah
sebagian kalimat yang mengomentari perubahan Zen di bulan puasa. Lantas? Ya,
lantas apa yang membuat anak muda itu jadi tak menyukai lebaran?
“Bukan
lebarannya yang aku gak suka,” kata Zen suatu hari pada teman-temannya, ”tapi
akibat yang harus kutanggung.”
Teman-teman
Zen menggeleng kepala tak mengerti.
Mana
bisa Lebaran membuat orang menanggung akibat yang tidak mengenakan? Apa pikiran
Zen sudah keblinger? Barangkali
karena lebaran Cuma sehari bukan sebulan, sehingga Zen tidak bisa
bersenang-senang sepuas-puasnya? Begitu pikir teman-temannya, yang bukan kali
ini saja melihat perubahan Zen, tapi perubahan itu tidak sedrastis seperti
sekarang.
Tak
jarang muncul perdebatan lumayan panas di ujung gang, yang tak jauh dari tempat
Zen tinggal. Anak muda itu memang sudah lama berdiam disitu. Sejak dia
meninggalkan kampung halamannya di Lampung Selatan dan menginjakkan kaki di
Jakarta, sehingga dia dapat pekerjaan di sebuah perusahaan film sebagai penata
artistik.
“Jangan-jangan
Zen ikut aliran yang gak bener,” kata seorang temannya,“soalnya sekarang kan
susah membedakan yang putih dengan yang abu-abu.”
“Atau
dia sedang menyebarkan aliran baru, tapi masih grogi,” tebak teman Zen lainnya,
“namanya juga masih baru, ya cari form-nya
yang tepat kan susah.”
“Kalau
betul, kita harus memberi peeringatan jangan sampai dia tersesat. Kasihan,
bagaimana dia teman kita.”
“Barangkali
pengeluarannya jadi lebih besar kalau Lebaran, sehingga dia tidak bisa
menabung,”
“Apa
karena setiap lebaran dia mesti membagi-bagikan duit kepada anak-anak gang
sini, terus dia merasa rugi?” serobot yang lain.
“Hus!
Jangan sembarangan nuduh gitu.”
Menjelang
Magrib perdebatan berhenti sendiri, tak ada keputusan apa- apa. Tak ada yang
mulai berani bertindak untuk memperbaiki keadaan. Semuanya merasa sungkan
karena Zen, meskipun bersikap baik, dalam hal yang satu ini tertutup bukan
main.
--><--
Mendekati
Lebaran, Zen makin gelisah. Tingkahnya jadi serba kacau. Selalu saja ada yang
salah kalau dia melakukan sesuatu. Jika tidak kekurangan, pasti kelebihan.
Pokoknya tidak ada yang pas.
Meskipun
begitu Zen tetap puasa dan rajin ke mushola. Cuma kalu biasanya setelah tarawih
Zen menyempatkan diri ngobrol-ngobrol dengan
jamaah lain, belakangan ini terutama mendekati akhir-akhir puasa, dia langsung
balik. Lalu mendekam dalam kamar sampai pagi. Esoknya dia berangkat kerja
seperti biasa. Tapi keriangan Zen nyaris hilang. Kalau bicara seperlunya saja,
dan nyata sekali sekedar basa-basi.
“Ini
gak bisa didiamkan!” kata seorang teman yang paling sering ditraktir nonton
oleh Zen. “Dia bukan Cuma teman akrab kita, tapi juga warga teladan gang ini.
Coba bayangkan, siapa yang paling rajin ngasih sumbangan kalau ada acara
agustusan? Atau kalau ada acara Maulid Nabi? Dia bukan Cuma nyumbang dana, tapi
pikiran dan tenaga.”
“Betul.
Siapa yang mula-mula bikin kegiatan buat anak-anak muda sini yang doyan ngobat
dan teler? Siapa yang pertama bikin kegiatan teater? Siapa yang ngadain tenis
meja? Siapa yang jadi pelopor tawuran antar kampung?”
“Hus!
Yang terakhir jangan dibawa-bawa dong! Lagian kalau itu kan yang melopori bukan
dia”
“Fitnah
itu!”
“Maaf...maaf...kelepasan,
Man.”
“Belum
lagi kalau ada tetangga yang kena musibah, dia juga orang yang selalu turun
tangan lebih dahulu.”
“Jadi
gimana?”
“Kita
harus tanya dia. Kita korek sedalam-dalamnya, apa yang membuat dia bersikap
begitu. Kalau tahu sebabnya, maka urusannya jadi gampang.”
“Kalau
dia gak mau?”
“Kita
paksa. Kalau perlu dengan kekerasan supaya dia mau mengaku. Jangan takut salah,
sebab tujuan kita benar. Gue yakin semua orang mendukung.”
Akhirnya
setelah melalui perdebatan yang cukup rumit dan sempat bikin urat leher tegang,
disepakati untuk melakukan investigasi diam-diam, sebab kalau terang-terangan,
jangan-jangan Zen malah tersinggung.
Ada
yang bertugas mengamati Zen selama 24 jam penuh. Tentu tak berlaku kalau Zen ke
toilet atau ke kamar mandi. Ada yang mencatat siapa-siapa saja yang datang
bertamu ke rumahnya. Ada yang mencatat apa saja yang diucapkan Zen, bagaimana
emosinya, tekanan suara sampai kata yang paling sering keluar dari mulutnya.
Ada juga yang bertugas menyelidiki warna-warna pakaian yang paling sering
dikenakan Zen.
Bagaimana
dengan Zen? Anak itu tentu saja sangat ngeh,
kalau dia menjadi objek penelitian teman-temannya. Tapi pikirannya terpusat
pada hari Lebaran yang tinggal hitungan jari.
Di
ruangan kamarnya yang ukuran tiga kali tiga meter itu sudah bertumpuk berbagai
kaleng makanan. Dari yang isinya biskuit biasa sampai cemilan untuk orang-orang kaya. Belum lagi botol-botol sirup
berjejer dengan berbagai merek dan warna. Sepuluh gepok uang recehan seribu
yang baru saja ditukarnya, tak lupa dia taruh di atas meja kecil, di samping
televisi. Beberapa bungkus pakaian untuk kerabatnya pun sudah dia siapkan.
Pokoknya serba komplit.
“Apa
pun yang terjadi, aku tidak mau!” tegas Zen pada Partam.
Kebetulan
sore itu, Partam teman sekolah sekaligus tetanga di kampungnya yang sama-sama
merantau ke Jakarta, berkunjung ke tempat kos Zen untuk mengajak pulang
bersama.
“Lantas
aku harus bilang apa sama orang tuamu?” tanya Partam.
“Terserah!”
“Jangan
gitu dong, Zen,” Partam merendahkan tekanan suaranya. Dia tahu Zen orang yang
baik dan gampang mengalah. Tapi jika sudah menyangkut urusan pulang kampung di
saat Lebaran, maka jangan harap mau berkompromi, “ya sudah, kalau kamu maunya
seperti itu, sebaiknya aku juga tidak pulang,”
“Kamu
harus pulang!” kata Zen.
“Kenapa
harus?”
“Supaya
ada yang bisa kasih laporan sama orang tuaku.”
“Kan,
bisa telepon.”
Zen
menggeleng.
“Tuh,
aku sudah sediakan semuanya!” Zen menunjukan barang-barang untuk bingkisan
Lebaran yang ada di kamarnya, “ongkos kamu, juga oleh-oleh buat Emak dan Bapak,”
Partam
diam saja. Tampangnya dipasang lebih serius dari sebelumnya. Dia perhatikan
wajah Zen dengan seksama, layaknya bocah SD di Planetarium TIM, sedang
mengamati benda luar angkasa yang belum pernah dilihat sebelumnya. Sementara
yang diperhatikan pasang tampang cuek.
“Zen.
Sebetulnya apa yang bikin kamu segan pulang?”
Zen
menatap Partam. Dia menarik nafas sebentar.
“Kalau
sudah menikah!” jawab Zen tegas, “kalau belum, orang tuaku pasti selalu
menodong dengan pertanyaan, mana calon istrimu? Si Anu saja yang lebih muda
sudah punya momongan, masak kamu menikah saja belum. Kamu mau Emak dan Bapak
meninggal dulu, baru kalau pulang bawa istri?”
Jujur!
Sebenarnya Zen tak mau bercerita, terutama jika menyangkut alasan yang
menyebabkan dia menolak merayakan Lebaran dia kampung.
“Dari
dulu juga bilangnya mau cari istri, mau menikah. Tapi usahanya mana? Mencari
saja tidak pernah.”
Tidak
pernah mencari? Partam salah besar. Seperti umumnya anak muda lain, Zen pun
pernah beberapa kali berdekatan dengan gadis-gadis, meski tidak bisa disebut
pacaran. Zen bukan menolak, apalagi anti pacaran. Dia mendekati gadis-gadis itu
untuk mengamati dan menilai, apa ada diantara mereka yang cocok untuk
dijadikannya sebagai istri.
Dia
pernah mendekati Lia, tetangga kosnya yang masih keturunan Manado Jawa. Anak
baik dan perhatian. Pendidikannya lumayan dan kerja kantoran pula. Zen rajin
menegurnya dengan ramah, dan gadis itu tak kalah ramahnya terhadap Zen. Tapi
baru beberapa minggu Zen sudah mundur. Pasalnya Lia pernah mengatakan, entah
sengaja menyinggung atau tidak, bahwa dia bercita-cita mencari suami yang punya
kerja lebih mapan, ketimbang dirinya yang Cuma pegawai kantor biasa.
“minimal
direktur!” tegas Lia.
Untungnya
waktu itu Zen belum mengungkapkan apa-apa, terutama yang berkaitan dengan
cinta. Jadi dia tenang-tenang saja dan tidak merasa ditolak.
Lainnya.
Zen pernah juga diam-diam menaruh hati pada Tika. Juga anak kos yang peranakan
Bandung, lulusan Fakultas Hukum Unpad dan suka bergaya tomboy. Orangnya putih
dan mungil. Cerdas dan punya jiwa sosial yang tinggi. Tapi belum juga ke
tingkat pedekate, Zen sudah ambil
langkah balik. Apalagi soalnya kalu bukan Tika yang aktivis itu ternyata juga
feminim tulen, yang ogah gampang
tahluk dengan kaum pria. Belum lagi sarat lainnya, mengharuskan laki-laki
pendamping hidupnya mesti seorang aktivis, yang berfikir progresif revolusioner.
Wuah berat!
Ada
juga Wenda, Ayu, Sarah, Nina, Fifi, Lidya dan seabrek nama lain. Tapi hasinya sama saja. Kalau bukan karena
masalah materi, pasti yang dicari gadis-gadis itu tidak jauh dari kesenangan
yang kasat mata.
Jangan-jangan
Zen terlalu mendiskreditkan mereka? Atau Zen kurang pede lantas bilang mereka bukan tipe Zen? Salah, salah dan salah! Zen suka dengan gadis yang enerjik,
kreatif, pintar. Dia juga tidak peduli kalau gadis itu aktifis seperti si Tika,
atau pemain sinetron kelas kacang macam Ayu. Yang jadi masalah ialah ada
sesuatu yang Zen dari mereka, dan itu tidak ada. Zen tidak menemukannya.
Ah. Kamu sok idealis! Begitu
komentar teman-teman yang menganggap Zen terlalu pemilih. Tetapi dengan enteng
Zen menjawab, ini bukan soal idealis, ini
masalah prinsip!
“betul
kan yang aku bilang,” suara Partam menyerentak Zen, “kamu memang tidak pernah
mencari?”
Bukannya
menjawab, Zen malah tiba-tiba menengok ke arah jam weker di sidut meja yang
menunjukan pukul stengah lima, lantas buru-buru berdiri. Lalu memandang keluar
jendela lewat celah krei yang dia buka sedikit. Matanya memicing, tak ubahnya
kucing yang sedang mengamati buruan.
“kamu
bukan....”
“stttt....”
zen menyuruh Partam diam.
Partam
dengan penasaran ikut-ikutan mengintip keluar. Tapi matanya yang dilapisi lensa
minus empat tak menangkap siapa-siapa, atau kejadian aneh apa pun. Selain
seorang perempuan tua yang keluar dari rumahnya.
Zen
terus menatap keluar jendela. Tingkahnya betul-betul menggelikan. Kadang
seperti orang yang mendadak kena sesak nafas, kadang juga mirip orang mendapat
tanah warisan tujuh hektar. Tak lama mendengar Zen mengeluh pelan, “ah, tidak
keluar juga.”
“ada
apa?”
Zen
menggeleng lemah, lantas duduk lagi.
“kamu
belum menjawab pertanyaan tadi,” desak Partam, “istri?”
“aku
belum dapat yang pas!” jawab Zen singkat.
“sebetulnya
tidak masalah kamu nikah dengan siapa dan bagaimana bentuk mempelaimu. Yang
penting waktu Lebaran kamu tak pulang sendiri, tapi bawa gandengan.”
Zen
menggeleng lagi.
“jadi
maunya yang bagaimana?”
“aku
ingin bidadari.”
Partam
bengong. Tak lama sobat kental Zen itu tertawa, ngakak luar biasa. Partam sadar betul, dia bukan orang yang punya
pendidikan tinggi. Namun rasanya tidak perlu menjadi sarjana untuk mencerna
kalimat Zen yang jauh dari masuk akal tadi.
“Memangnya
ada Bidadari yang otaknya masih waras, mau sama kamu?” ujar Partam setelah
meredakan tawanya.
“Ada”
Kali
ini Partam membelalak. Bukan karena heran, tapi sama sekali tak menduga kalu
isi kepala teman sekampungnya itu makin tak beres.
“Bidadari
itu otaknya masih waras seribu persen,” kata Zen mantap.
“Kamu
serius?”
“Seharian
ini aku menunggu dia, tapi gak muncul-muncul. Kata ibunya, baru saja kamu lewat
jendela tadi, Bidadari itu memang pemalu dan jarang mau keluar rumah kalau
tidak penting sekali.”
“Ooo...Jadi
kamu sebut Bidadari itu putri ibu kos?”
Zen
mengganguk.
“Sejak
kapan kamu mengincar dia?”
“Sejak
aku tidak menemukan apa yang kucari.”
“Dan
lantaran frustasi, kamu terpaksa mendekati anak itu?”
“Bukan
terpaksa. Aku sudah mengamatinya dia semenjak dia datang. Rasanya Bidadari itu
cocok buatku. Kelihatannya kali ini aku sudah menemukan yang kucari, ”Zen
menjelaskan dengan penuh semangat, “kamu tahu, aku anak satu-satunya. Jadi aku
harus memberikan yang terbaik buat orang tuaku.”
Zen
ingat. Gadis yang dipanggil Bidadari itu muncul di rumah ibu kos sehari
menjelang puasa. Wajahnya manis, meski cara berpakaiannya masih dibilang
konvensional. Dia gemar mengenakan jilbab dengan motif bunga kecil-kecil. Gamisnya
lebar dan menjuntai ke bawah, mirip perempuan-perempuan Arab. Mukanya
senantiasa tertunduk jika berpapasan dengna orang lain. Dan tangannya yang
selalu memegang sehelai saputangan, tak pernah lepas menutupi sebagian mukanya.
Semula
Zen bertanya-tanya, siapa gerangan gadis cantik itu. Tapi setelah tanya
sana-sini, menggali informasi dari si A, B dan C, Zen tahu, kalau makhluk
cantik bernama Bidadari itu merupakan anak bungsu ibu kos. Sejak lama menempuh
pendidikan di sebuah pesantren di Jawa Timur. Dia datang berkunjung , selain
karena kangen dengan keluarganya, juga ingin sesekali merayakan Lebaran di
Jakarta.
“Cuma
sayang,” Zen menurunkan tekanan suaranya, bahkan ucapannya lebih terdengar
seperti keluhan. Rasa optimisnya yang tadi meledak-ledak tiba-tiba menguap,
“menurut desas-desus mata Bidadari tidak bisa melihat dengan baik, itu sebabnya
dia jarang keluar. Dia juga tak bisa bicara.”
Partam
menyadari kalau sahabatnya masih menyimpan keraguan, cepat-cepat mengingatkan.
“Aku
orang bodoh, Zen. Tapi sangat percaya, perjalanan waktu bisa menjelaskan mana
Bidadari asli dan mana yang imitasi, ”ujar Partam dengan simpati, ”selamat
berjuang!”
“Sebelum
Lebaran tiba, aku sudah harus mengambil keputusan!” kata Zen dengan mantap,
“melamarnya atau aku tidak bakal menikah sampai mendapatkan Bidadari
pengganti.”
Tiga
hari menjelang hari raya Idul Fitri, saat orang-orang sibuk menyiapkan segala
keperluan untuk menyambutnya. Zen malah mendatangi rumah ibu kos ditemani
Partam. Pakaiannya rapi, celana panjang hitam dipadu dengan baju koko berwarna
biru muda. Kopiah yang baru tadi siang dia beli, terlihat bertengger di
kepalanya.
Setelah
mengucap salam dan basa-basi sekedarnya. Zen pun kini berhadapan dengan Ibu
kos. Perempuan tua itu didampingi salah seorang kakak lelaki Bidadari, karena
bapaknya sudal lama meninggal. Bidadari sendiri tidak kelihatan, mungkin memang
sengaja tidak ikut hadir.
Zen
yang tidak mau lama-lama, apalagi sidah kenal baik dengan keluarga itu,
langsung mengutarakan niatnya. Ibu kos tentu heran. Sebab apa yang dilakukan
Zen terbilang mendadak dan kurang lazim. Ibu itu mengira, karena besok Idul
Fitri, maka Zen datang untuk
bersilaturahim karena akan pulang kampung. Ternyata kedatangan Zen untuk
melamar anaknya. Namun setelah diberi penjelasan, baru Ibu kos mengerti.
“Jadi
Nak Zen serius?” tanya Ibu kos lagi.
Bagaimana
pun dia masih sangsi dengan kesungguhan niat Zen.
“Insya
Allah, Bu.”
Kakak
Bidadari nampak berbisik kepadanya. Ibu kos mengangguk perlahan. Lalu menengok
ke arah Zen.
“Nak
Zen sudah tahu kalau Bidadari Cuma gadis biasa? Cacat pula?”
“Sudah.”
“Masih
mau?”
Dengan
mantap Zen mengiyakan.
“Tidak
menyesal di kemudian hari?”
“Insya
Allah, tidak.”
“Tidak
akan menyia-yiakan Bidadari jika nanti dia mengecewakan?”
Zen
mangangguk
“Alhamdulillah.
Sekarang tergantung pada Bidadari, apa dia setuju atau tidak tergantung niat
Nak Zen.”
“Saya
mau jawabannya sekarang!” kata Zen tak sabar.
Ibu
kos percaya kalau Zen jujur dan bersungguh-sungguh. Jadi dia berpikir, apa
salahnya kalau dipenuhi sedikit keinginan anak muda itu.
“Seandainya Bidadari tidak setuju atau menolak
keinginan Nak Zen bagaimana?” tanya Ibu kos.
Zen
diam.
“Zen,”
bisik partam, “kalau dia menollak, kasih aku kesempatan untuk coba melamarnya,
ya. Mana tahu aku lebih mujur.”
“Sssst!
Teman dilarang makan teman!” bisik Zen menimpali.
“Bagaimana?”
ulang Ibu kos.
“Oh..e..tidak
apa-apa, bu,” jawab Zen gelagapan, “yang penting saya sudah berusaha.”
Ibu
kos masuk ke ruangan dalam. Dan tidak berselang lama sudah kembali. Tanpa
Bidadari.
“Ibu
minta maaf,” ujar Ibu kos, nada penuh penyesalan, “Bidadari minta waktu.
Mungkin habis lebaran baru bisa kasih jawaban.”
Zen
lunglai. Tapi mau bilang apa?
Sebentar
lagi azan Magrib. Berarti beberapa saat lagi ibadah puasa genap dijalani selama
sebulan, kemudian malamnya takbiran. Tapi tak berbeda dengan kebanyakan di
tempat lain, suara orang mengumandangkan takbir di sekitar tempat Zen tinggal
sudah terdengar riuh, meriah dan saling bersahutan dengan bunyi beduk.
Namun
ada yang berbeda. Dari kamar kos Zen malah terdengar suara siulan lagu
Cinta-nya Crisye. Siapa gerangan yang bersenandung lagu cinta justru menjelang
malam takbiran? Siapa lagi kalau bukan penghuninya. Sejak siang anak muda itu
bahkan sudah berdandan rapi. Dan tampaknya, dia siap menebar senyum kepada
siapa pun yang dijumpainya.
Sudah
pasti kelakuan Zen yang mendadak berubah drastis dibandingkan sebelumnya, dan
tak lepas dari pengamatan teman-teman investigatornya itu, menimbulkan lagi
perdebatan seru.
“Kamu
perhatikan gak tingkah si Zen? Kelakuannya benar-benar terbalik seratus delapan
puluh derajat.”
“Maksudnya
kalau dia jalan kakinya diatas, terus tangannya dibawah?”
“Bukan
begitu. Dia kan tadinya pemurung, serba gelisah, maunya mendekam terus dalam
kamar. Jangankan ngobrol bareng, negur saja paling ala kadarnya. E, sejak siang
tadi aku perhatikan dia malah senyam-senyum sendiri. Malah pakai bersiul-siul
segala.”
“Kok
bisa, ya?”
“Apa
karena dia sudah sadar, sudah kembali ke jalan yang lurus?”
Belum
juga perdebatan selesai, orang yang jadi perbincangan malah ujug-ujug nongol di hadapan mereka.
Wajahnya sumringah. Rambutnya
tersisir rapih. Pakaiannya necis.
“Selamat
berlebaran! Mohon maaf lahir batin! Saya akan pulang kampung, doakan biar
selamat! Mudah-mudahan umur kita panjang, dan bisa bertemu lagi pada Lebaran
berikutnya! Secepatnya saya kembali ke Jakarta, dan kita akan bersama-sama
sampai Lebaran berikutnya,” begitu kata Zen.
Dia
salami semua yang hadir dengan ramah dan senyum terbuka lebar. Satu dua orang
malah dia peluk dengan hangat, layaknya orang yang akan berpergian jauh dalam
waktu lama. Kemudian dia datangi juga tetangga kiri-kanan, depan belakang.
Setelah
dirasa cukup, Zen pun melenggang dengan riang dan penuh semangat. Tangannya
mengerek koper beroda berukuran besar. Lagi-lagi, semua itu tak lepas dari
pengamatan orang-orang di sekitarnya. Bagaimana bisa orang yang baru kemarin
murung, asik dengan dirinya sendiri, katanya tak suka dengan lebaran, kini
mendadak berubah jadi sangat periang. Konyolnya lagi seolah tak terjadi sesuatu
pun. Rasanya cuma perlu satu kata untuk menjelaskan semua itu : Fantastis!
Zen
memang pantas bersuka hati. Semua bermula dari kejadian tadi pagi, saat dia
terpaksa mendatangi rumah Ibu kos, karena tak sabar menunggu. Dia meminta
Bidadari menjawab secepatnya lamaran yang kemarin dia ajukan. Zen bahkan
mengancam akan terus berdiam di depan pintu rumah Ibu kos tanpa makan-minum,
sampai Bidadari memberi jawaban.
Benar
saja, Bidadari mau menemui Zen. Tentu ditemani ibunya. Zen lantas sebisa mungkin membuat isyarat agar
tak menyinggung perasaan Bidadari. Intinya kalau gadis itu menolak lamaran,
cukup mengelengkan kepala. Tapi kalau setuju, maka Bidadari cukup mengangguk.
Dantahu apa yang terjadi?
“Insya
Allah. Saya menerima lamaran Mas Zen,” kata Bidadari lembut. Kemudian berlalu
setelah mengucapkan salam.
Zen
bengong. Zen terkesima. Suara tadi? Suara merdu tadi adalah milik Bidadari.
Bagaimana mungkin? Apa Zen bermimpi? Dan mata Bidadari ternyata teramat indah.
Betulkah?
Ini terlalu klise! pikir Zen. Terlalu
telenovela!
Namun
anak muda itu tak perduli. Dia sudah terlalu lama mencari.
Maka
tak usah heran jika dalam pelajaran
pulang, setiap kali bertemu dengan siapa pun, Zen menjawab teguran mereka
dengan teriakan mantap : Eureka!
Pengarang:
Biru Laut
Kirimkan kisah atau pengalamanmu
yang paling berkesan,
dan menginspirasi ke email
sertakan NAMA (boleh nama
panggung)
Bagikan
Zen Ingin Bidadari
4/
5
Oleh
Unknown



2 komentar
Tulis komentarKeren gan artikelnya
ReplySemangat, Zen! Di awal sempat mikir kalo ceritanya tentang Zen yang ikut aliran sesat atau semacamnya, eh ternyata ujung-ujungnya romance XD
Reply