Assalamualaikum!” aku menyapanya. Tapi
ntah untuk yang berapa kalinya, anak perempuan bertahi lalat manis di kening,
yang kutaksir berumur tujuh tahun itu hanya menatap. Kuulangi salam. Tetap saja
tak ada yang keluar dari mulut mungilnya, yang kadang bergerak-gerak tak
menentu bagai ingin mengeluarkan sesuatu. Hanya matanya bulat hitam
mengerjap-ngerjap tanda bahwa ia menangkap ucapanku.
Apa
dia bisu?
Aku tersenyum dan membentangkan kedua
tangan, mengisyaratkan aku tak mengerti apa maunya. Lalu kubuka pintu kamar
kos. Namun saat menoleh ke anak itu lagi, Cuma kulihat pungungnya yang berlari
menjauh.
Aku tak tahu dia anak siapa. Banyak anak
sebayanya yang sering juga bermain di sekitar tempat tinggalku, yang baru
kuhuni beberapa minggu. Tapi berbeda dengan anak-anak lainnya yang hanya
selintas menatap. Anak perempuan tadi terus-menerus memperhatikan gerak-geriku
setiap aku pulang kuliah. Bahkan tampaknya ia hafal, kapan aku keluar atau
pulang ketempat kosku, yang jaraknya tak begitu jauh dari kampus.
Pernah suatu saat aku tak langsung masuk
ke rumah. Tapi sengaja berdiri beberapa meter dari tempat bocah perempuan itu
biasanya menunggu. Aku ingin tau apa reaksinya, jika aku tak muncul. Dan yang
terjadi ? Ya, Tuhan. Tak sedikitpun anak itu beranjak dari tempatnya terus
terpaku menatap ke arah rumahku. Baru waktu aku mendekat dan melemparkan senyum
padanya, anak itu pun segera berlalu.
Anak
aneh!
Suatu ketika kubawakan dia boneka kecil
yang kubeli dari pedagang kaki lima, yang sering mangkal di Stasiun KA Podok
Cina. Tapi tak tahu kenapa, anak itu malah tidak muncul.
Besoknya. Juga beberapa hari berselang,
tetap tak kelihatan wajahnya yang mulai akrab. Mungkin dia bosan. Aku maklum,
sebab dia tak beda dengan anak kecil lainnya, yang umumnya gampang jenuh dengan
sesuatu. Namun hari berikutnya ketika aku pulang, anak perempuan itu malah
muncul dan berdiri di tempat biasanya.
Salam kuucapkan. Dan seperti yang
sudah-sudah dia Cuma diam. Kusuruh anak itu menunggu. Aku masuk sebentar dan
keluar lagi dengan menggengam boneka, yang langsung kusodorkan padanya.
“Terima kasih,” katanya dengan suara
nyaris tak terdengar.
Aku mengangguk. Inilah kalimat pertama
yang kudengar setelah sekian hari bertemu, sekaligus menepis anggapanku yang
mengira dia bisu. Aku baru saja ingin mengajaknya berbincang lebihbanyak, waktu
ssadar bahwa ada lebam hitam di dekat pelipisnya dekat sudut mata.
“Kenapa?” jariku menujuk bagian
tersebut. Anak itu tersenyum. Lalu seperti yang sudah-sedah, dia membalikkan
badan dan dengan berlari kecil segera menjauh. Tampaknya kegembiraan menerima
hadiah yang tak terduga, jauh lebih memenuhi benaknya ketimbang memikirkan
pertanyaanku.
Ah,
dasar anak kecil. Kalau tidak karena
jatuh pasti berkelahi. Mungkin itu sebabnya ia jarang bermain bersama
teman-temannya yang lain.
--><--
“Anik!”
Aku berbalik dan menoleh. Beberapa meter
di depanku seorang gadis cantik berhijab oranye berlari mendekat.
“Ya amplop, dipanggilin berkali-kali gak
denger juga, memangnya kemanahin tuh kuping?”
Icha teman kuliahku satu jurusan, yang
belakangan ini memutuskan pakai jilbab mendatangiku. Wajahnya bersemu merah
terkena terik matahari.
“Pakai salam dong, Neng Manis!”tegurku.
“Iya deh. Assalamualaikum!”
Kujawab salamnya. Lantas kutanya ada apa
dia tadi bertriak-triak memanggil, sebab setahuku Icha tak akan bertingkah
seperti iyu jika tak ada sesuatu yang istimewa.
“Aku sudah dapet donatur yang
bersedia bantuin rencana kita,”ujarnya
dengan senyum lesung pipit yang sering bibin greget.
“Trus?”
“Selain bantu, orang ini malah dengan
senang hati mau ikut terlibat lanngsung. Hebat, kan?”
Ah, Icha yang berjilbab namun tetap
gaul. Icha yang selalu membuat orang terkesan. Dan delakangan, malah gampang
sekali terharu jika melihat penderitaan orang lain.
Dulu Icha seperti kebanyakan mahasiswi
di kampusku. Gaul dan berkesan semau gue.
Jins dan kaos ketat atau tankto, merupakan kostum favoritnya. Rambutnya
dipotong pendek, nyaris mirip cowok. Anting yang menghias bukan hanya di
kuping, jga di hidung. Warna rambutnya tiap minggu berganti-ganti, tergantung
mood. Pkpknya ngetrend abis.
Sebagai anak satu-satunya, dari orang
tua yang kaya raya pula, tentu saja Icha sangat dimanja. Bayangkan! Ke kampus
saja dia pakai BMW. Dan seperti kebanyakan anak orang kaya yang dimanja, Icha
pun terjebak dalam kehidupan yang serba permisive,
meski belum ada tanda taraf kehilangan sesuatu yang dibanggakan sebagai
gadis. Tapi obat-obatan dan beberapa jenis lainnya, hampir semua sudah dia
coba.
Ssampai suatu ketika dia mengalami over
dosis. Beruntung nyawanya tidak itut melayang, seperti yang sering dialamai
penderita OD yang lain. Setelah menjalani perawatan cukup lama, Icha kuliah
lagi. Tai kali ini ada yang berubah, dia
kehilangan kegembiraan dan jadi penyendiri.
Beberapa teman karibnya menjauh. Justru
aku semula tidak dekat denganya, malah kemudian bergaul akrab. Entah mengapa
aku merasa bahwa Icha sebenarnya anak yang baik. Jadi bagiku tak masalah
berakrab-akrab dengannya.
“Hei, kok jadi bengong. Kagum ya lihat
aku tampil cantik?”serentak Icha mengejutkan.
Kututup mulut menahan ketawa.
Aku pernah mendengar pertanyaan yang
sama darinya. Dulu, saat Icha baru sembuh, tapi nadanya begitu kering. Waktu
itu aku hanya tersenyum mendengar kelakarnya. Lalu kuutarakan niat untuk
mengajaknya bergabung dengan pengajian kampus.
Icha menggeleng.
“Cha, kami kekurangan ornag yang bisa
membantu dalam berhubungan dengan orang banyak,”kataku dengan penuh harap,
”ya...semacam humas. Setelah berdiskusi,kami sepakat untuk meminta bantuamu.
Itu pun kalau kamu bersedia.”
Icha kelihatan berpikir sebentar, lalu.
“Oke, kita lihat, apa aku cocok.”
“Terima kasih”
“Kapan?”
“Sekarang!”
Icha memandang ragu. Sejurus kemudian
senyumnya terkembang.
“Senyum kamu manis, Cha!”kataku tulus.
Sesampainya di masjid tempat kegiatan
ROHIS biasa di laksanakan, Icha tampak kikuk. Barangkali karena kostumnya
berbeda dengan yang kami kenakan.
“Cha, kamu gak perlu pakai jilbab kalau
memang gak mau,” bisikku menenangkan,”kami sudah senang banget kalau kamu bisa
bantu.”
Icha diam. Kami benar-benar khawatir dia
mengurungkan niatnya, setelah melihat suasana yang berbanding terbalik dengan
kesehariaannya.
“Boleh aku pinjam apa saja untuk penutup
kepala?”pinta Icha.
“Iya!”jawabku, dan segera mengeluarkan
jilbab kaos yang sering kubawa untuk persediaan ganti.
“Pinjam cermin!”katanya lagi.
Cepat kuraih tas dan memenuhi
permintaanya.
Dia memperhatikan wajahnya di cermin,
lalu memandang kami yang juga menatapnya dengan keheranan.
“Aku cocok gak pakai keridung?”tanya
Icha serius.
Aku dan teman-teman mengangguk, kompak.
Setelah itu kami berkumpul untuk
mengikutu diskusi rutin yang kami adakan. Pembimbingnya kali ini seorang
penulis yang juga bergiat dalm dakwah lewat tulisan-tulisannya.
Di sela-sela diskusi, sesekali kulirik
Icha yang duduk di sebelahku. Aku ingin tahu reaksinya mengikuti kegiatan,yang
mungkin baru sekali ini dia ikuti. Tapi tampaknya Icha tenang-tenang saja.
“Orang seringkali mengukur kebahagiaan
dengan banyaknya limpahan materi,”begitu kata Ustadzah kami di akhir
pertemuan,”terus berpendapat bahwa sudah sewajarnya Allah memberi imbalan
karena dia rajin beribadah.”
Aku melirik Icha lagi. Dia masih serius.
“sebagian orang kaya beranggapan, bahwa
dosa-dosanya bisa ditebus jika dia menyumbangkan harta sebanyak-banyaknya intuk
orang miskin. Kalau benar begitu, betapa kasiah orang miskin karena dia pasti
tidak punya harta untuk menebus dosanya.”
Jujur! Entah kenapa aku tidak tertarik
menyimak diskusi kali ini. Aku jauh lebih berminat, untuk memperhatikan sikap
gadis berjins yang terpaku diam di sebelahku. Heh, dia tertunduk. Tak lama ada
guncangan kecil di bahunya.
Ya Allah, bentangan sungai kecil
mengalir dari mata indah itu, lumayan deras. Apa dia menangis? Entahlah.
“Nik. Kamu gak lagi kesurupan, kan?”
Icha melambai-lambaikan tanganya di depan
wajahku.
“Sadar dong, Nik! Belum waktunya kamu
berubah wujud, ini belum Magrib.”
Tawaku langsung meledak.
“Gak lah, Cha. Aku Cuma surprise aja
denger berita dari kamu.”
Aku cubit pipinya dengan gemas.
“jadi?”
“Yuk, Kitarembukin lagi bareng yang
lain.”
“Ee...Nik,” Icha terlihat ragu
“Kenapa lagi, Non?” aku penasaran,
tumben semangatnya yang menggebu-gebu bisa langsung padam. Ini pasti ada
apa-apanya.
“Rembukan di masjid?”Icha tanya lagi.
“Iya dong, mau kemana lagi?” aku makin
heran.
“Sori, aku lagi ...anu...Palang Merah
Internasional.”
Aku senyum
“Kalau gitu di kantin. Kamu calling yang lain, aku unggu sekalian
nyiapin cemilannya.”
“Kamu kayak anak jaman dulu aja. Aku kan
bisa pake ini buat ngubungin temen-temen,” Icha mengeruarkan Hp-nya.
Ya, ampun. Aku lupa kalau si jilbab
oranye itu anak orang kaya. Hhh..jadi malu hati.
“Halo Icha!”tiba-tiba terdengar teguran
seorang cowok.
Aku dan Icha menoleh.
“Kapan kita nonton bareng lagi?”
Andry si playboy karatan yang betah jadi mahasiswa abadi mendekat,”Udah lama
nih kita gak nomat, ini kan hari Senin.”
Icha menunjukan tinjuannya ke arah
Andry.
Andry bungkam dan langsung kabur. Dia
tau, biarpun Icha sekarang pakai jilbab, tetapai gak bakal segan-segan
mengeluarkan jurus-jurus karatenya, kalau ada orang yang berani menggangu.
Ah, dasar Icha!
--><--
Aku berjalan menuju rumah. Capek benar
hari ini. Banyak tugas-tugas kuliah yang harus disellesaikan dalam waktu cepat.
Belum lagi menghubungi Mama di Bandung, yang bilang sudah kangen berat. Atau
membeli pesanan si bungsu Tia, adikku yang meski baru SMA tapi sudah gandrung
sama buku-bukunya Torey Hayden.
“Assalamualaikum...”
Heh, aku terkejut dan segera sadar dari
lamunan.
Aku menjawab salam, lalu berbalik. Di
sana sudah berdiri ‘penggemarku’ seperti biasanya.
Tapi kali ini tak begitu kuhiraukan
kehadirannya. Aku langsung membuka pintu kamar kos, bermaksud istirahat untuk
sekedar mendinginkan otak. Aku benar-benar tak mau diganggu. Pintu sedah
terbuka. Aku menoleh dan berharap seperti kemarin-kemarin, hanya punggungnya
yang kulihat menjauh. Ah, ternyata bocah manis berambut keriting itu masih
berdiri di sana.
“Sini!”aku mengajaknya masuk. Tak tega
juga hatiku.
Gadis kecil itu menggeleng.
Aku mengeluarkan sebungkus permen
kegemaranku dari dalam tas, dan menyodorkan padanya. Dengan ragu dia mendekat.
“Namamu siapa?” tanyaku.
Gadis kecil itu menganbil pemberianku,
dan sesaat kemudian matanya berbinar. Wow, rupanya dia jauh lebih tertarik pada
objek yang kini ada di tangannya, dibandingkan dengan menjawab pertanyaanku.
“Terima kasih!”dia mencium tanganku.
“ini kenapa?” aku memegang kedua
lengannya, yang dipenuhi oleh bilur-bilur merah kehitaman.
Gadis kecil itu sigap menarik tangannya.
Wajahnya tertunduk.
“Kenapa?”tanyaku lembut dan hati-hati.
Kepalanya yang tadi menunduk kudongakkan.
Astaga! Jeritku dalam hati. Aku segera
memeriksa wajahnya dengan seksama. Sungguh tadi tak kuperhatikan betul, bahwa
seperti ada beberapa benturan yang menimpa wajah bocah itu. Tapi apa? Apa dia
terjatuh? Atau berkelahi?
“Kenapa? Ayo, ceritakan pada kakak!”
Gadis kecil itu tetap tak menjawab.
Malah matanya yang juga sedikit sebab, berkaca-kaca. Kudekap dia. Tapi isaknya
makin menjadi-jadi. Pasti ada yang disembunyikannya. Entah apa.
“kita masuk, ya!”
Anak itu menggeleng.
“Ceritakan! Mudah-mudahan kakak bisa
bantu,”aku merayaunnya.
Lagi-lagi dia mengeleng.
“Kalau gitu biar kakak antar pulang,”
ujarku lagi, dengan harapan gadis kecil itu akan tersenyum.
Sia-sia. Yang terjadi justru sebaliknya,
dia malah terlihat ketakutan.
“Gak usah takut, kakak gak akan cerita
apa-apa. kakak Cuma ingin Ayah dan Ibumu mengobati. Boleh?”
Gadis
itu mengedarkan panangan seperti takut ulahnya terlihat oleh orang lain.
Sekali lagi dia mencium tanganku, kemudian cepat-cepat berlalu.
“Dik, tunggu!...Dik...!”aku mencoba
menghentikannya. Tapi tubuh kecilnya sudah lenyap di balik tikungan jalan.
Aku terpaku keheranan. Seorang ibutua
yang kebetulan melintas dan melihat kejadian itu segera menghampiri.
“Ada apa, nak?”tanyanya heran.
“Yang tadi anak siapa, Bu?”aku menunjuk
kearah tempat si gadis kecil menghilang.
“O...Anak itu tinggalnya ndak jauh dari
sini. Ngontrak di rumah Bu Haji. Ada apa?”
“Ibu kenal orang tuanya?”sedikit harapan
muncul di hatiku.
“Ndak. Orang sini juga ndak ada yang
kenal, sebab dia orang baru,” jawab si Ibu. Mungkin merasa aneh dengan
pertanyaanku. “Orang tuanya tertutup banget. Kata orang-orang sih ibunya jadi
lonte di pasar Jatinegara. Tapi bapaknya sering ada di rumah, kayak
pengangguran.”
Aku mengangguk. Bukan memahami apa ynag
diutarakan perempuanparuh baya tersebut, tapi lebih ingin mencoba memahami
bayangan-bayangan yang saat ini bermain di kepalaku.
Ah, apa mungkin....
“Apa anak itu nyolong punya.....”
“Gak, Bu. Sama sekali gak ada yang
mencuri,”
Aku sengaja memotong ucapanya, karena
khawatir berakibat buruk pada anak itu,”terima kasih ya, Bu!”
“Ya, sama-sama!”
Tanpa menoleh lagi, perempuan
berperawakan gemuk itu berlalu.
“Bu, tunggu!” aku menghampiri si Ibu
yang baru beberapa langkah,”Ibu tahu siapa nama anak tadi?”
Sambil mengaruk kepalanya si Ibu
menatapku.
“Orang sini Ndak ada yang tahu siapa
namanya.”
Aku tersenyum sebagai ungkapan
terimakasih, meski rasa bingung makin menyergapku.
--><--
Akhirnya selesai juga segala ujian
semester. Aku, Icha dan teman-teman kembali berkumpul, untuk menyelesaikan
rencana yang sempat tertunda.
“Ke kantin, yuk!”kata Icha
“Mau nraktir, neh?”Ifa menyambar.
“Kayaknya ada yang ulang tahun, ya?”
tanya Nunu, si fatwoman yang biasanya
langsung berkotek, kalau menddengar gratisan disebut.
“Gak...”Icha bicara lagi,”aku Cuma lagi
ketiban sedikit rejeki.”
“Apa sih?”aku penasaran
“Eh, mau tau aja. Come on!” Icha menarik tanganku, dan segera diikuti yang lain.
Setiba di kantin, kami langsung mengambil
tempat yang agak menyudut. Maklum, soalnya mau ngomongin proyek serius.
Setelah pesan ini-itu,
“Jadi gimana? Silahkan satu per satu
memberikan laporan!”ucapku memulai.
“Aku sudah dapat beberapa donatur yang
siap bantuin program kita,”Ifa mengeluarkan buku kecil dari tasnya,”Insya
Allah, total dana yang bisa dikumpulkan cukup untuk memberikan bantuan tuju
orang siswa SD selama setahun.”
Alhamdullilah!
“Kamu gimana?” kulirik Nunu, yang saat
itu sedang siap-siap mencaplok pisang goreng.
“Ehm....aku berhasil mendaftarkan
beberapa anak yang menurutku layak banget untuk mendapat santunan,” Nunu
membuka catatannya.”Selain yatim piatu, ada juga anak yang ornag tuanya lengkap
tapi sangat layak untuk di bantu.”
“Donatur?”
“Hehe...”Nunu nyengir kuda, “Insya Allah, menyusul.”
“Makasih ya, Nu. Icha?”
“Sorry. Aku gak menjalankan amanat
kalian dengan baik,” kata Icha serius,”aku gak bisa cari donatur kayak Ifa sama
Nunu.”
“Tapi kamu pernah bilang...”
“Maksudnya, aku memang gak cari ke yang
lain. Aku Cuma cerita ke Nyokap, dan...” Icha menggantung kalimatnya.
Aku, Ifa dan Nunu diam. Kami tahu Icha
memang anak orang kaya, tapi jujur saja kami belum kenal betul dengan orang
tuanya, yang menurut kabar burung super sibuk.
Pernah beberapa kali kami mampir ke
rumah Icha. Tapi kalau bukan pembantu yang menyambut, ya satpam atau supirnya.
Pernah juga sekali bertemu dengan mamanya, tetapi Cuma say hello yang terdengar di tambah sedikit senyum, terus menghilang
lagi.
Hm, niat baik kadang memang gak gampang
dilaksanakan, ya?”
“Cha,” pelan searaku menegurnya.
Icha semakin menundukan kepalan, hingga
kami tak dapat melihat perubahan ekspresi di mukanya.
“Cha”
Bahu Icha terguncang-guncang.
Gampang betul gadis ini menagis. Ah, aku
jadi merasa bersalah karena sudah mengajaknya terlibat dalam proyek, yang
sebenarnya jauh dari kesehariannya.
Tak lama Icha menegakan kepalanya.
Mukanya cengar-cengir.
Heh! Kenapa lagi dia?
“Hihi...aktingku bagus, gak?”
Kami langsung cemberut. Tawa Icha makin
keras.
“Cha,”kata yang duduk didekat Icha
sambil memegang kening gadis cantik itu. Tampang Nunu di pasang memelas,” kamu
jangan hilang ingatan dulu, ya! Kami masih memerlukanmu, paling gak setelah
urusan di kantin ini selesai!”
Tawa Icha makin menjadi-jadi, sampai
membuat beberapa pengunjung kantin yang lagi asik ngerumpi, menoleh.
“Begini,” Icha menghentikan tawa, tapi
senyum manisnya masih berkembang. “Aku memang cuma cerita sama Mama soal
rencana kita, dan ternyata Mama siap bantuin berapa aja yang kita perlu. Malah
mau ikutan nanganin kalau pas lagi gak sibuk.”
Aku, Ifa dan Nunu menatap gadis cantik
yang emosinya sering gak terduga itu.
“Aku bahagia banget,” kata Icha lagi,
kali ini kelihatan serius. ”Sebab baru kali ini
Mama memberiakn perhatian pada apa yangg aku lakukan. Jadi yang membuat
girang, bukan cuma kesediaan Mama buat ngebantu, tapi perhatiannya.”
Hm...aku mulai paham apa yang di rasakan
Icha.
“Kami memang limayan mapan, tapi kami
adalah keluarga yang kering banget dari nilai-nilai sosial,” lanjut Icha, “jadi
dengan adanya sikap Mama yang begitu, aku jadi girang. Semoga Allah semakin
membuka hati orang tuaku, serta selalu memberika hidayah pada kami.”
Kompak kami meng-amini doa Icha, dan
langsung memeluknya.
Subhanallah, benar-benar tidak disangka.
“Dah ya pelukannya,” kata Icha yang
sudah kembali keriangannya,”nanti di kira yang gak-gak.”
“Aku jadi malu sama kalian,”kataku
akhirnya, “aku yang punya usul tapi kayaknya malah aku yang gak maksimal.”
“Kalau soal gak maksimal, dari dulukan
memang udah jagonya. Hehe,” sela Ifa.
“Lanjut!” Nunu ikut nimbrung
“Aku sampai saat ini belum dapat seorang
pun donatur. Tapi kalau daftar anak-anak yang perlu bantuan, wuih....sudah
dapet sederet nih,” aku tidak mau kalah menunjukan catatanku, ”Cuma ada satu
anak yang benar-benar bikin aku penasaran.”
Aku lalu menceritakan tentang gadis
kecil ‘penggemarku’, yang biasa menunggu setiap aku pulang kuliah. Kuceritakan
juga bagaimana pekerjaan orang tuanya seperti yang pernah kudengar.
“Dia selalu terlihat ketakutan.
Kelihatannya terjadi sesuatu pada anak itu.”
Kemudian kujelaskan tentang bilur-bilur
kehitaman, yang kuduga bekas-bekas benturan.
“Siapa nama anak itu, Nik?”tanya Icha
penasaran.
Astaga.
Bagaimana bisa, yang lain kucatat dengan lengkap. Sementara anak itu, yang
bahkan setiap hari dengan setia menunggu, tidak kucatat namanya. Sungguh sebuah
keteledoran yang tak bisa dimaafkan!
“Namanya...duh, maaf!” ucapku dengan
nada sesal, “aku gak tau namanya, malah aku belum sempat berkunjung
kerumahnya,”
Ifa dan Nunu melotot ke arahku.
“Namakan saja Surga!” tegas Icha.
“Ah, kamu ada-ada saja”
“Aku ingin memanggilnya Surga,” kata
Icha, tampangnya serius, “kalau mau jadi saudaraku, dia akan ku panggil Surga.”
“Nama yang bagus , Cha!” ujar Ifa.
“Aku ingin menemui anak itu. Aku mau
mengangkatnya sebagai adik,” wajah Icha terlihat optimis.
Kupandangi gadis manis itu. Aku ingin
menyelami lagi perasaannya.
“Kenapa?” Gak Boleh?” tanya Icha yang
menagkap keraguanku.
Aku mengembangkan senyum.
Sungguh! Icha adalah salah satu teman
terbaikku, mana bisa aku tidak membantunya.
“Aku gak main-main. Kalian kan tahu aku
ini anak semata golek. Aku pengen banget punya adik,” tandas Icha, “kalau perlu
aku minta ijin sama bokap-nyokap, supaya dia tinggal bateng aku.”
“Aku akan membantumu!” kataku.
“Kalau boleh usul.....” Ifa menyela.
Matanya yang bulat berbinar-binar, ”Maaf,jangan tersinggung gung!”
Heh!
Mana kami tersinggung pada Ifa, yang tampangnya saja bikin orang selalu
tersenyum.
“Kenapa gak minta adik sama mamamu
saja?”
“Sudah sering aku minta. Tapi seperti
kebanyakan orang sibuk, Mama gak mau karirnya terganggu sama rutinitas
keluarga.”
“Kalau gitu, jadiin aja aku adik
angkatmu!”
Huek!
“Kapan kita dapat bertemu anak itu?”
tanya Nunu
“Secepatnya. Kalau perlu sekarang.
Mudah-mudahan orang tuanya mengijinkan dia kuangkat menjadi adik.”
Icha tersenyum dengan wajah penuh
harapan.
“Amin!”tambahku.
Kami lalu melanjutkan pembicaraan yang
lainnya, agar semua rencana berjalan sesuai keinginan.
--><--
Sehari kemudian, aku dan Icha, juga Ifa
ddan Nunu berniat menemui gadis kecil, yang kini sepakat kami panggil Surga.
Aku menoleh ke Icha. Wajahnya yang kini
di balut jilbab biru muda semakin menampakan kecantikannya yang alami, yang
menurut beberapa kawan di kampus sangat aristokrat.
“Daerah sisi memang agak kumuh,” jelasku
pada teman-teman, ”maklum....termasuk pinggiran meskipun di sekitarnya banyak
bangunan-bangunan mewah”
“Kamu nganggap kita makhluk steril yang
anti kemiskinan, ya?” protes Nunu.
“Aku Cuma ngasih tau.”
Untuk kedua kali kulirik Icha yang
berjalan tepat disampingku. Mukanya kelihatan girang betul.
“Sebentar lagi kita sampai. Kalian gak
mau mampir ketempat kosku dulu?”
“Nanti ajah kalau aku sudah ketemu
adikku. Okeh?”
“Gak mampir juga gak apa,” aku pura-pura
ngambek.
“Jangan pasang muka begitu dong , Non. Putri
cantikmu ini pasti akan mampir ketempatmu,” rajuk Icha, tangannya mencubit
pipiku.
“Tau gak apa yang akan kulakukan kalau
ketemu dia?” tanya Icha, tapi belum sempat aku membuka suara, gadis itu sudah
menjawabnya sendiri. ” Aku akan memberinya sebuah ciuman manis. Satu di kiri
dan satu di kanan.”
Wah. Kayaknya makin
serius nih.
“Nanti, akan kuajak dia tidur di
kamarku. Akan kuberikan sebagian besar koleksi mainanku,” Icha makin melambung,
“kelihatannya menyenangkan juga punya adik, ya?”
Aku Cuma tersenyum.
Setelah melewati beberapa tikungan
sesuai dengan petunjuk yang kani dapat, akhirnya sampai juga di tempat anak itu
tinggal.
“Yang mana rumahnya, Nik?” tanya Icha
tidak sabar.
“Kalau gak salah sih di situ!” aku
menunjuk sederetan rumah kontrakan, yang bentuk bangunannya tidak beda satu
sama lain.
“Kok ramai begitu?” Gak salah?”
“Kita tanya saja,” Nunu memberi usul.
“Permisi, Pak!” kataku pada seorang
bapak tua yang sedang menyusun deretan bangku-bangku. Tampaknya agak sengaja di
siapkan untuk sebuah acara.
“Ada apa, Neng?”
“mau cari tempat kos, ya?” tanya seorang
pemuda dengan lagak genit, ”di tempat saya aja, lebar-lebar lagi.”
“Diam lu, dongo!” bentak si Bapak pada
pemuda ceriwis yang langsung ngeloyor
pergi. “Ada perlu apa, Neng?”
Kami lalu menanyakan gadis kecil ‘adik’
Icha pada si Bapak, lengkap dengan ciri-cirinya yang kuhafal. Bapak itu diam
sejenak. Barangkali bingung dengan kehadiran kami yang mendadak.
“Si Neng siapanya?”
“Saya kakaknya, Pak” potong Icha. Senyum
optimisnya lagi-lagi terkembang, munculkan cekungan kecil dikedua belah
pipinya.
Si Bapak dengan heran menatap kami.
“Pak, Insya Allah, kami gak punya maksud
jelek,” Nunu memberi pengertian.
Ada benarnya juga. bagaimanapun kami
orang asing, jadi biasa saja menimbulkan salah paham.
“Ya, Pak. Kami datang kesini justru
karena kangen dengan anak itu,” Ifa coba-coba mencairkan suasana.
Si orang tua bertambah bingung. Meski
akhirnya dengan suara lemah dia menyuruh kami mengikutinya.
“Sini!”
“Kenapa ramai begini? Memangnya ada apa
Pak?” tanya Ifa
Bapak itu hanya diam. Dia berjalan ke
pintu. Di belakang kami mengikuti.
“Silahkan, Neng. Itu Emaknya!” tunjuk si
Bapak yang segera berlalu.
Setelah mengucap salam, kami pun masuk.
Jujur saja, aku merasa ada yang aneh dengan sikap si Bapak tadi.
“Permisi, Bu!” kata Icha pada seorang
perempuan berumur tiga puluhan, yang sedang duduk dengan wajah acuh.
Ditangannya terselip sebatang rokok filter, kelihatanya baru dinyalakan.
“Ada apa?” tanya perempuan itu dengan
ketus.
Tatapannya penuh selidik, entah heran
atau curiga melihat kehadiran kami.
“Surga ada, Bu? Eh, maksud saya....,”
Icha ragu untuk meneruskan.
“Surga?” Kok lu nya surga ke gua?” jawab
perempuan itu seenaknya. Sepertinya tersinggung karena kami menggangunya.
Lalu mulutnya yang kehitaman karena
nikotin, menghisap lagi rokoknya dengan nikmat. Dan menghembuskan gumpalan asap
putih kecoklat-coklatan itu ke udara. “Kenapa gak dateng ke guru ngaji aja?
Atau ustad?”
“Maaf. Maksud kedatangan kami ke sini,
ingin bertemu anak Ibu,” aku mencoba memberi penjelasan.
“Ya. Sekalian minta ijin,” tambah Icha.
Tapi belum sempat kalimatnya berlanjut,
kucolek lengannya. Icha yang paham isyaratku langsung terdiam,
“Boleh?” aku memohon lagi.
Si Ibu menatap kami satu per satu.
Sisa-sisa make-up-nya masih tampak jejal, meski berbanding terbalik dengan
ekspresi wajahnya. Perempuan itu, masih dengan tampang acuh, berjalan ke
ruangan tengah.
Kami yang mengikuti, sempat melirik.
Ruangan itu begitu sumpek dan kumuh. Semua benda-benda yang ada: bangku dan
meja kayu, gelas-gelas, teko, ember, dan sebuah radio kecil, nyaris membuat
sakit mata orang-orang kaya yang pelit. Tak ada foto keluarga, apalagi lukisan
dinding. Yang ada hanya sebuah kalender kusam bergambar gedung mewah
bertingkat, yang dipaki untuk hiasan.
“Tuh....di situ!”
Kata perempuan itu setengah membentak.
Kami menghampiri pembaringan yang
ditunjukan perempuan itu. Dia sendiri duduk di sebuah bangku kayu, yang ada di
sisi ranjang. Matanya menerawang keluar, melewati lubang pintu.
“Biar cuma anak pungut, tapi gua sayang
bener anak itu,” lagi dia bicara, seolah pada dirinya sendiri. Tapi kali ini
nyaris tak ada emosi di dalamnya. Suara yang keluar pun bagai mengalir di
sebuah permukaan datar. ”Kalau tau begini, gak bakal gua mau hidup sama
laki-laki jahat itu!”
Aku sebenarnya heran mendengar
gerutuannya. Tapi sosok yang tertidur di atas pembaringan, dan berselimut rapat
macam orang terserang demam itu, jauh lebih menarik perhatianku. Aku semakin
mendekat. Sementara Icha, Nunu dan Ifa beberapa langkah di belakang.
“Nik” bisik Icha.
Aku menoleh. Icha, Ifa dan Nunu
memandangku, seolah memberi isyarat.
Hatiku berdgup kencang. Perlahan
kusingkap sebagian kain yang menutupi wajah Surga. Lama aku memandangnya.
“Gimana, Nik?” bisik Icha penasaran,
yang melihatku terdiam saja.
Kutatap Icha.
“Gimana?”kejarnya Icha lagi.
“Dia sedang tidur,” jawabku, dengan
suara yang mirip keluar dari sumur tak berdasar, “Sebaiknya jangan kita
ganggu!”
Ajakanku terlambat. Icha tanpa ragu
mendekat, dan langsung membuka kain yang menutupi wajah bocah kecil kami.
Sesaat kemudian Icha terpekik.
Ya. Di atas pembaringan itu, di balik
kain lusuh itu, Surga terbaring beku. Ada banyak lebam-lebam kehitaman di
wajahnya. Mata Surga kecil terpejam. Tapi aku yakin dia bahagia. Sebab kini dia
menemukan Pencinta Sejati, yang akan memberikannya kasih sayang tanpa batas.
Pengarang : Biru Laut
Kirimkan kisah atau pengalamanmu
yang paling berkesan,
dan menginspirasi ke email
sertakan NAMA, KONTAK &
ALAMAT LENGKAP
Bagikan
Ciuman Buat Surga
4/
5
Oleh
Unknown


