Saturday, 12 March 2016

Ciuman Buat Surga






Assalamualaikum!” aku menyapanya. Tapi ntah untuk yang berapa kalinya, anak perempuan bertahi lalat manis di kening, yang kutaksir berumur tujuh tahun itu hanya menatap. Kuulangi salam. Tetap saja tak ada yang keluar dari mulut mungilnya, yang kadang bergerak-gerak tak menentu bagai ingin mengeluarkan sesuatu. Hanya matanya bulat hitam mengerjap-ngerjap tanda bahwa ia menangkap ucapanku.
Apa dia bisu?
Aku tersenyum dan membentangkan kedua tangan, mengisyaratkan aku tak mengerti apa maunya. Lalu kubuka pintu kamar kos. Namun saat menoleh ke anak itu lagi, Cuma kulihat pungungnya yang berlari menjauh.
Aku tak tahu dia anak siapa. Banyak anak sebayanya yang sering juga bermain di sekitar tempat tinggalku, yang baru kuhuni beberapa minggu. Tapi berbeda dengan anak-anak lainnya yang hanya selintas menatap. Anak perempuan tadi terus-menerus memperhatikan gerak-geriku setiap aku pulang kuliah. Bahkan tampaknya ia hafal, kapan aku keluar atau pulang ketempat kosku, yang jaraknya tak begitu jauh dari kampus.
Pernah suatu saat aku tak langsung masuk ke rumah. Tapi sengaja berdiri beberapa meter dari tempat bocah perempuan itu biasanya menunggu. Aku ingin tau apa reaksinya, jika aku tak muncul. Dan yang terjadi ? Ya, Tuhan. Tak sedikitpun anak itu beranjak dari tempatnya terus terpaku menatap ke arah rumahku. Baru waktu aku mendekat dan melemparkan senyum padanya, anak itu pun segera berlalu.
Anak aneh!
Suatu ketika kubawakan dia boneka kecil yang kubeli dari pedagang kaki lima, yang sering mangkal di Stasiun KA Podok Cina. Tapi tak tahu kenapa, anak itu malah tidak muncul.
Besoknya. Juga beberapa hari berselang, tetap tak kelihatan wajahnya yang mulai akrab. Mungkin dia bosan. Aku maklum, sebab dia tak beda dengan anak kecil lainnya, yang umumnya gampang jenuh dengan sesuatu. Namun hari berikutnya ketika aku pulang, anak perempuan itu malah muncul dan berdiri di tempat biasanya.
Salam kuucapkan. Dan seperti yang sudah-sudah dia Cuma diam. Kusuruh anak itu menunggu. Aku masuk sebentar dan keluar lagi dengan menggengam boneka, yang langsung kusodorkan padanya.
“Terima kasih,” katanya dengan suara nyaris tak terdengar.
Aku mengangguk. Inilah kalimat pertama yang kudengar setelah sekian hari bertemu, sekaligus menepis anggapanku yang mengira dia bisu. Aku baru saja ingin mengajaknya berbincang lebihbanyak, waktu ssadar bahwa ada lebam hitam di dekat pelipisnya dekat sudut mata.
“Kenapa?” jariku menujuk bagian tersebut. Anak itu tersenyum. Lalu seperti yang sudah-sedah, dia membalikkan badan dan dengan berlari kecil segera menjauh. Tampaknya kegembiraan menerima hadiah yang tak terduga, jauh lebih memenuhi benaknya ketimbang memikirkan pertanyaanku.
Ah, dasar anak kecil. Kalau tidak karena jatuh pasti berkelahi. Mungkin itu sebabnya ia jarang bermain bersama teman-temannya yang lain.
--><--

“Anik!”
Aku berbalik dan menoleh. Beberapa meter di depanku seorang gadis cantik berhijab oranye berlari mendekat.
“Ya amplop, dipanggilin berkali-kali gak denger juga, memangnya kemanahin tuh kuping?”
Icha teman kuliahku satu jurusan, yang belakangan ini memutuskan pakai jilbab mendatangiku. Wajahnya bersemu merah terkena terik matahari.
“Pakai salam dong, Neng Manis!”tegurku.
“Iya deh. Assalamualaikum!”
Kujawab salamnya. Lantas kutanya ada apa dia tadi bertriak-triak memanggil, sebab setahuku Icha tak akan bertingkah seperti iyu jika tak ada sesuatu yang istimewa.
“Aku sudah dapet donatur yang bersedia  bantuin rencana kita,”ujarnya dengan senyum lesung pipit yang sering bibin greget.
“Trus?”
“Selain bantu, orang ini malah dengan senang hati mau ikut terlibat lanngsung. Hebat, kan?”
Ah, Icha yang berjilbab namun tetap gaul. Icha yang selalu membuat orang terkesan. Dan delakangan, malah gampang sekali terharu jika melihat penderitaan orang lain.
Dulu Icha seperti kebanyakan mahasiswi di kampusku. Gaul dan berkesan semau gue. Jins dan kaos ketat atau tankto, merupakan kostum favoritnya. Rambutnya dipotong pendek, nyaris mirip cowok. Anting yang menghias bukan hanya di kuping, jga di hidung. Warna rambutnya tiap minggu berganti-ganti, tergantung mood. Pkpknya ngetrend abis.
Sebagai anak satu-satunya, dari orang tua yang kaya raya pula, tentu saja Icha sangat dimanja. Bayangkan! Ke kampus saja dia pakai BMW. Dan seperti kebanyakan anak orang kaya yang dimanja, Icha pun terjebak dalam kehidupan yang serba permisive, meski belum ada tanda taraf kehilangan sesuatu yang dibanggakan sebagai gadis. Tapi obat-obatan dan beberapa jenis lainnya, hampir semua sudah dia coba.
Ssampai suatu ketika dia mengalami over dosis. Beruntung nyawanya tidak itut melayang, seperti yang sering dialamai penderita OD yang lain. Setelah menjalani perawatan cukup lama, Icha kuliah lagi.  Tai kali ini ada yang berubah, dia kehilangan kegembiraan dan jadi penyendiri.
Beberapa teman karibnya menjauh. Justru aku semula tidak dekat denganya, malah kemudian bergaul akrab. Entah mengapa aku merasa bahwa Icha sebenarnya anak yang baik. Jadi bagiku tak masalah berakrab-akrab dengannya.
“Hei, kok jadi bengong. Kagum ya lihat aku tampil cantik?”serentak Icha mengejutkan.
Kututup mulut menahan ketawa.
Aku pernah mendengar pertanyaan yang sama darinya. Dulu, saat Icha baru sembuh, tapi nadanya begitu kering. Waktu itu aku hanya tersenyum mendengar kelakarnya. Lalu kuutarakan niat untuk mengajaknya bergabung dengan pengajian kampus.
Icha menggeleng.
“Cha, kami kekurangan ornag yang bisa membantu dalam berhubungan dengan orang banyak,”kataku dengan penuh harap, ”ya...semacam humas. Setelah berdiskusi,kami sepakat untuk meminta bantuamu. Itu pun kalau kamu bersedia.”
Icha kelihatan berpikir sebentar, lalu.
“Oke, kita lihat, apa aku cocok.”
“Terima kasih”
“Kapan?”
“Sekarang!”
Icha memandang ragu. Sejurus kemudian senyumnya terkembang.
“Senyum kamu manis, Cha!”kataku tulus.
Sesampainya di masjid tempat kegiatan ROHIS biasa di laksanakan, Icha tampak kikuk. Barangkali karena kostumnya berbeda dengan yang kami kenakan.
“Cha, kamu gak perlu pakai jilbab kalau memang gak mau,” bisikku menenangkan,”kami sudah senang banget kalau kamu bisa bantu.”
Icha diam. Kami benar-benar khawatir dia mengurungkan niatnya, setelah melihat suasana yang berbanding terbalik dengan kesehariaannya.
“Boleh aku pinjam apa saja untuk penutup kepala?”pinta Icha.
“Iya!”jawabku, dan segera mengeluarkan jilbab kaos yang sering kubawa untuk persediaan ganti.
“Pinjam cermin!”katanya lagi.
Cepat kuraih tas dan memenuhi permintaanya.
Dia memperhatikan wajahnya di cermin, lalu memandang kami yang juga menatapnya dengan keheranan.
“Aku cocok gak pakai keridung?”tanya Icha serius.
Aku dan teman-teman mengangguk, kompak.
Setelah itu kami berkumpul untuk mengikutu diskusi rutin yang kami adakan. Pembimbingnya kali ini seorang penulis yang juga bergiat dalm dakwah lewat tulisan-tulisannya.
Di sela-sela diskusi, sesekali kulirik Icha yang duduk di sebelahku. Aku ingin tahu reaksinya mengikuti kegiatan,yang mungkin baru sekali ini dia ikuti. Tapi tampaknya Icha tenang-tenang saja.
“Orang seringkali mengukur kebahagiaan dengan banyaknya limpahan materi,”begitu kata Ustadzah kami di akhir pertemuan,”terus berpendapat bahwa sudah sewajarnya Allah memberi imbalan karena dia rajin beribadah.”
Aku melirik Icha lagi. Dia masih serius.
“sebagian orang kaya beranggapan, bahwa dosa-dosanya bisa ditebus jika dia menyumbangkan harta sebanyak-banyaknya intuk orang miskin. Kalau benar begitu, betapa kasiah orang miskin karena dia pasti tidak punya harta untuk menebus dosanya.”
Jujur! Entah kenapa aku tidak tertarik menyimak diskusi kali ini. Aku jauh lebih berminat, untuk memperhatikan sikap gadis berjins yang terpaku diam di sebelahku. Heh, dia tertunduk. Tak lama ada guncangan kecil di bahunya.
Ya Allah, bentangan sungai kecil mengalir dari mata indah itu, lumayan deras. Apa dia menangis? Entahlah.
“Nik. Kamu gak lagi kesurupan, kan?”
Icha melambai-lambaikan tanganya di depan wajahku.
“Sadar dong, Nik! Belum waktunya kamu berubah wujud, ini belum Magrib.”
Tawaku langsung meledak.
“Gak lah, Cha. Aku Cuma surprise aja denger berita dari kamu.”
Aku cubit pipinya dengan gemas.
“jadi?”
“Yuk, Kitarembukin lagi bareng yang lain.”
“Ee...Nik,” Icha terlihat ragu
“Kenapa lagi, Non?” aku penasaran, tumben semangatnya yang menggebu-gebu bisa langsung padam. Ini pasti ada apa-apanya.
“Rembukan di masjid?”Icha tanya lagi.
“Iya dong, mau kemana lagi?” aku makin heran.
“Sori, aku lagi ...anu...Palang Merah Internasional.”
Aku senyum
“Kalau gitu di kantin. Kamu calling yang lain, aku unggu sekalian nyiapin cemilannya.”
“Kamu kayak anak jaman dulu aja. Aku kan bisa pake ini buat ngubungin temen-temen,” Icha mengeruarkan Hp-nya.
Ya, ampun. Aku lupa kalau si jilbab oranye itu anak orang kaya. Hhh..jadi malu hati.
“Halo Icha!”tiba-tiba terdengar teguran seorang cowok.
Aku dan Icha menoleh.
“Kapan kita nonton bareng lagi?”
Andry si playboy karatan yang betah jadi mahasiswa abadi mendekat,”Udah lama nih kita gak nomat, ini kan hari Senin.”
Icha menunjukan tinjuannya ke arah Andry.
Andry bungkam dan langsung kabur. Dia tau, biarpun Icha sekarang pakai jilbab, tetapai gak bakal segan-segan mengeluarkan jurus-jurus karatenya, kalau ada orang yang berani menggangu.
Ah, dasar Icha!
--><--
Aku berjalan menuju rumah. Capek benar hari ini. Banyak tugas-tugas kuliah yang harus disellesaikan dalam waktu cepat. Belum lagi menghubungi Mama di Bandung, yang bilang sudah kangen berat. Atau membeli pesanan si bungsu Tia, adikku yang meski baru SMA tapi sudah gandrung sama buku-bukunya Torey Hayden.
“Assalamualaikum...”
Heh, aku terkejut dan segera sadar dari lamunan.
Aku menjawab salam, lalu berbalik. Di sana sudah berdiri ‘penggemarku’ seperti biasanya.
Tapi kali ini tak begitu kuhiraukan kehadirannya. Aku langsung membuka pintu kamar kos, bermaksud istirahat untuk sekedar mendinginkan otak. Aku benar-benar tak mau diganggu. Pintu sedah terbuka. Aku menoleh dan berharap seperti kemarin-kemarin, hanya punggungnya yang kulihat menjauh. Ah, ternyata bocah manis berambut keriting itu masih berdiri di sana.
“Sini!”aku mengajaknya masuk. Tak tega juga hatiku.
Gadis kecil itu menggeleng.
Aku mengeluarkan sebungkus permen kegemaranku dari dalam tas, dan menyodorkan padanya. Dengan ragu dia mendekat.
“Namamu siapa?” tanyaku.
Gadis kecil itu menganbil pemberianku, dan sesaat kemudian matanya berbinar. Wow, rupanya dia jauh lebih tertarik pada objek yang kini ada di tangannya, dibandingkan dengan menjawab pertanyaanku.
“Terima kasih!”dia mencium tanganku.
Tapi baru saja dia hendak berlari seperti biasa, cepat kuhentikan langkahnya.
“ini kenapa?” aku memegang kedua lengannya, yang dipenuhi oleh bilur-bilur merah kehitaman.
Gadis kecil itu sigap menarik tangannya. Wajahnya tertunduk.
“Kenapa?”tanyaku lembut dan hati-hati. Kepalanya yang tadi menunduk kudongakkan.
Astaga! Jeritku dalam hati. Aku segera memeriksa wajahnya dengan seksama. Sungguh tadi tak kuperhatikan betul, bahwa seperti ada beberapa benturan yang menimpa wajah bocah itu. Tapi apa? Apa dia terjatuh? Atau berkelahi?
“Kenapa? Ayo, ceritakan pada kakak!”
Gadis kecil itu tetap tak menjawab. Malah matanya yang juga sedikit sebab, berkaca-kaca. Kudekap dia. Tapi isaknya makin menjadi-jadi. Pasti ada yang disembunyikannya. Entah apa.
“kita masuk, ya!”
Anak itu menggeleng.
“Ceritakan! Mudah-mudahan kakak bisa bantu,”aku merayaunnya.
Lagi-lagi dia mengeleng.
“Kalau gitu biar kakak antar pulang,” ujarku lagi, dengan harapan gadis kecil itu akan tersenyum.
Sia-sia. Yang terjadi justru sebaliknya, dia malah terlihat ketakutan.
“Gak usah takut, kakak gak akan cerita apa-apa. kakak Cuma ingin Ayah dan Ibumu mengobati. Boleh?”
Gadis  itu mengedarkan panangan seperti takut ulahnya terlihat oleh orang lain. Sekali lagi dia mencium tanganku, kemudian cepat-cepat berlalu.
“Dik, tunggu!...Dik...!”aku mencoba menghentikannya. Tapi tubuh kecilnya sudah lenyap di balik tikungan jalan.
Aku terpaku keheranan. Seorang ibutua yang kebetulan melintas dan melihat kejadian itu segera menghampiri.
“Ada apa, nak?”tanyanya heran.
“Yang tadi anak siapa, Bu?”aku menunjuk kearah tempat si gadis kecil menghilang.
“O...Anak itu tinggalnya ndak jauh dari sini. Ngontrak di rumah Bu Haji. Ada apa?”
“Ibu kenal orang tuanya?”sedikit harapan muncul di hatiku.
“Ndak. Orang sini juga ndak ada yang kenal, sebab dia orang baru,” jawab si Ibu. Mungkin merasa aneh dengan pertanyaanku. “Orang tuanya tertutup banget. Kata orang-orang sih ibunya jadi lonte di pasar Jatinegara. Tapi bapaknya sering ada di rumah, kayak pengangguran.”
Aku mengangguk. Bukan memahami apa ynag diutarakan perempuanparuh baya tersebut, tapi lebih ingin mencoba memahami bayangan-bayangan yang saat ini bermain di kepalaku.
Ah, apa mungkin....
“Apa anak itu nyolong punya.....”
“Gak, Bu. Sama sekali gak ada yang mencuri,”
Aku sengaja memotong ucapanya, karena khawatir berakibat buruk pada anak itu,”terima kasih ya, Bu!”
“Ya, sama-sama!”
Tanpa menoleh lagi, perempuan berperawakan gemuk itu berlalu.
“Bu, tunggu!” aku menghampiri si Ibu yang baru beberapa langkah,”Ibu tahu siapa nama anak tadi?”
Sambil mengaruk kepalanya si Ibu menatapku.
“Orang sini Ndak ada yang tahu siapa namanya.”
Aku tersenyum sebagai ungkapan terimakasih, meski rasa bingung makin menyergapku.
--><--
Akhirnya selesai juga segala ujian semester. Aku, Icha dan teman-teman kembali berkumpul, untuk menyelesaikan rencana yang sempat tertunda.
“Ke kantin, yuk!”kata Icha
“Mau nraktir, neh?”Ifa menyambar.
“Kayaknya ada yang ulang tahun, ya?” tanya Nunu, si fatwoman yang biasanya langsung berkotek, kalau menddengar gratisan disebut.
“Gak...”Icha bicara lagi,”aku Cuma lagi ketiban sedikit rejeki.”
“Apa sih?”aku penasaran
“Eh, mau tau aja. Come on!” Icha menarik tanganku, dan segera diikuti yang lain.
Setiba di kantin, kami langsung mengambil tempat yang agak menyudut. Maklum, soalnya mau ngomongin proyek serius.
Setelah pesan ini-itu,
“Jadi gimana? Silahkan satu per satu memberikan laporan!”ucapku memulai.
“Aku sudah dapat beberapa donatur yang siap bantuin program kita,”Ifa mengeluarkan buku kecil dari tasnya,”Insya Allah, total dana yang bisa dikumpulkan cukup untuk memberikan bantuan tuju orang siswa SD selama setahun.”
Alhamdullilah!
“Kamu gimana?” kulirik Nunu, yang saat itu sedang siap-siap mencaplok pisang goreng.
“Ehm....aku berhasil mendaftarkan beberapa anak yang menurutku layak banget untuk mendapat santunan,” Nunu membuka catatannya.”Selain yatim piatu, ada juga anak yang ornag tuanya lengkap tapi sangat layak untuk di bantu.”
“Donatur?”
“Hehe...”Nunu nyengir kuda, “Insya Allah, menyusul.”
“Makasih ya, Nu. Icha?”
“Sorry. Aku gak menjalankan amanat kalian dengan baik,” kata Icha serius,”aku gak bisa cari donatur kayak Ifa sama Nunu.”
“Tapi kamu pernah bilang...”
“Maksudnya, aku memang gak cari ke yang lain. Aku Cuma cerita ke Nyokap, dan...” Icha menggantung kalimatnya.
Aku, Ifa dan Nunu diam. Kami tahu Icha memang anak orang kaya, tapi jujur saja kami belum kenal betul dengan orang tuanya, yang menurut kabar burung super sibuk.
Pernah beberapa kali kami mampir ke rumah Icha. Tapi kalau bukan pembantu yang menyambut, ya satpam atau supirnya. Pernah juga sekali bertemu dengan mamanya, tetapi Cuma say hello yang terdengar di tambah sedikit senyum, terus menghilang lagi.
Hm, niat baik kadang memang gak gampang dilaksanakan, ya?”
“Cha,” pelan searaku menegurnya.
Icha semakin menundukan kepalan, hingga kami tak dapat melihat perubahan ekspresi di mukanya.
“Cha”
Bahu Icha terguncang-guncang.
Gampang betul gadis ini menagis. Ah, aku jadi merasa bersalah karena sudah mengajaknya terlibat dalam proyek, yang sebenarnya jauh dari kesehariannya.
Tak lama Icha menegakan kepalanya. Mukanya cengar-cengir.
Heh! Kenapa lagi dia?
“Hihi...aktingku bagus, gak?”
Kami langsung cemberut. Tawa Icha makin keras.
“Cha,”kata yang duduk didekat Icha sambil memegang kening gadis cantik itu. Tampang Nunu di pasang memelas,” kamu jangan hilang ingatan dulu, ya! Kami masih memerlukanmu, paling gak setelah urusan di kantin ini selesai!”
Tawa Icha makin menjadi-jadi, sampai membuat beberapa pengunjung kantin yang lagi asik ngerumpi, menoleh.
“Begini,” Icha menghentikan tawa, tapi senyum manisnya masih berkembang. “Aku memang cuma cerita sama Mama soal rencana kita, dan ternyata Mama siap bantuin berapa aja yang kita perlu. Malah mau ikutan nanganin kalau pas lagi gak sibuk.”
Aku, Ifa dan Nunu menatap gadis cantik yang emosinya sering gak terduga itu.
“Aku bahagia banget,” kata Icha lagi, kali ini kelihatan serius. ”Sebab baru kali ini  Mama memberiakn perhatian pada apa yangg aku lakukan. Jadi yang membuat girang, bukan cuma kesediaan Mama buat ngebantu, tapi perhatiannya.”
Hm...aku mulai paham apa yang di rasakan Icha.
“Kami memang limayan mapan, tapi kami adalah keluarga yang kering banget dari nilai-nilai sosial,” lanjut Icha, “jadi dengan adanya sikap Mama yang begitu, aku jadi girang. Semoga Allah semakin membuka hati orang tuaku, serta selalu memberika hidayah pada kami.”
Kompak kami meng-amini doa Icha, dan langsung memeluknya.
Subhanallah, benar-benar tidak disangka.
“Dah ya pelukannya,” kata Icha yang sudah kembali keriangannya,”nanti di kira yang gak-gak.”
“Aku jadi malu sama kalian,”kataku akhirnya, “aku yang punya usul tapi kayaknya malah aku yang gak maksimal.”
“Kalau soal gak maksimal, dari dulukan memang udah jagonya. Hehe,” sela Ifa.
“Lanjut!” Nunu ikut nimbrung
“Aku sampai saat ini belum dapat seorang pun donatur. Tapi kalau daftar anak-anak yang perlu bantuan, wuih....sudah dapet sederet nih,” aku tidak mau kalah menunjukan catatanku, ”Cuma ada satu anak yang benar-benar bikin aku penasaran.”
Aku lalu menceritakan tentang gadis kecil ‘penggemarku’, yang biasa menunggu setiap aku pulang kuliah. Kuceritakan juga bagaimana pekerjaan orang tuanya seperti yang pernah kudengar.
“Dia selalu terlihat ketakutan. Kelihatannya terjadi sesuatu pada anak itu.”
Kemudian kujelaskan tentang bilur-bilur kehitaman, yang kuduga bekas-bekas benturan.
“Siapa nama anak itu, Nik?”tanya Icha penasaran.
Astaga. Bagaimana bisa, yang lain kucatat dengan lengkap. Sementara anak itu, yang bahkan setiap hari dengan setia menunggu, tidak kucatat namanya. Sungguh sebuah keteledoran yang tak bisa dimaafkan! 
“Namanya...duh, maaf!” ucapku dengan nada sesal, “aku gak tau namanya, malah aku belum sempat berkunjung kerumahnya,”
Ifa dan Nunu melotot ke arahku.
“Namakan saja Surga!” tegas Icha.
“Ah, kamu ada-ada saja”
“Aku ingin memanggilnya Surga,” kata Icha, tampangnya serius, “kalau mau jadi saudaraku, dia akan ku panggil Surga.”
“Nama yang bagus , Cha!” ujar Ifa.
“Aku ingin menemui anak itu. Aku mau mengangkatnya sebagai adik,” wajah Icha terlihat optimis.
Kupandangi gadis manis itu. Aku ingin menyelami lagi perasaannya.
“Kenapa?” Gak Boleh?” tanya Icha yang menagkap  keraguanku.
Aku mengembangkan senyum.
Sungguh! Icha adalah salah satu teman terbaikku, mana bisa aku tidak membantunya.
“Aku gak main-main. Kalian kan tahu aku ini anak semata golek. Aku pengen banget punya adik,” tandas Icha, “kalau perlu aku minta ijin sama bokap-nyokap, supaya dia tinggal bateng aku.”
“Aku akan membantumu!” kataku.
“Kalau boleh usul.....” Ifa menyela. Matanya yang bulat berbinar-binar, ”Maaf,jangan tersinggung gung!”
Heh! Mana kami tersinggung pada Ifa, yang tampangnya saja bikin orang selalu tersenyum.
“Kenapa gak minta adik sama mamamu saja?”
“Sudah sering aku minta. Tapi seperti kebanyakan orang sibuk, Mama gak mau karirnya terganggu sama rutinitas keluarga.”
“Kalau gitu, jadiin aja aku adik angkatmu!”
Huek!
“Kapan kita dapat bertemu anak itu?” tanya Nunu
“Secepatnya. Kalau perlu sekarang. Mudah-mudahan orang tuanya mengijinkan dia kuangkat menjadi adik.”
Icha tersenyum dengan wajah penuh harapan.
“Amin!”tambahku.
Kami lalu melanjutkan pembicaraan yang lainnya, agar semua rencana berjalan sesuai keinginan.
--><--
Sehari kemudian, aku dan Icha, juga Ifa ddan Nunu berniat menemui gadis kecil, yang kini sepakat kami panggil Surga.
Aku menoleh ke Icha. Wajahnya yang kini di balut jilbab biru muda semakin menampakan kecantikannya yang alami, yang menurut beberapa kawan di kampus sangat aristokrat.
“Daerah sisi memang agak kumuh,” jelasku pada teman-teman, ”maklum....termasuk pinggiran meskipun di sekitarnya banyak bangunan-bangunan mewah”
“Kamu nganggap kita makhluk steril yang anti kemiskinan, ya?” protes Nunu.
“Aku Cuma ngasih tau.”
Untuk kedua kali kulirik Icha yang berjalan tepat disampingku. Mukanya kelihatan girang betul.
“Sebentar lagi kita sampai. Kalian gak mau mampir ketempat kosku dulu?”
“Nanti ajah kalau aku sudah ketemu adikku. Okeh?”
“Gak mampir juga gak apa,” aku pura-pura ngambek.
“Jangan pasang muka begitu dong , Non. Putri cantikmu ini pasti akan mampir ketempatmu,” rajuk Icha, tangannya mencubit pipiku.
“Tau gak apa yang akan kulakukan kalau ketemu dia?” tanya Icha, tapi belum sempat aku membuka suara, gadis itu sudah menjawabnya sendiri. ” Aku akan memberinya sebuah ciuman manis. Satu di kiri dan satu di kanan.”
Wah. Kayaknya makin serius nih.
“Nanti, akan kuajak dia tidur di kamarku. Akan kuberikan sebagian besar koleksi mainanku,” Icha makin melambung, “kelihatannya menyenangkan juga punya adik, ya?”
Aku Cuma tersenyum.
Setelah melewati beberapa tikungan sesuai dengan petunjuk yang kani dapat, akhirnya sampai juga di tempat anak itu tinggal.
“Yang mana rumahnya, Nik?” tanya Icha tidak sabar.
“Kalau gak salah sih di situ!” aku menunjuk sederetan rumah kontrakan, yang bentuk bangunannya tidak beda satu sama lain.
“Kok ramai begitu?” Gak salah?”
“Kita tanya saja,” Nunu memberi usul.
“Permisi, Pak!” kataku pada seorang bapak tua yang sedang menyusun deretan bangku-bangku. Tampaknya agak sengaja di siapkan untuk sebuah acara.
“Ada apa, Neng?”
“mau cari tempat kos, ya?” tanya seorang pemuda dengan lagak genit, ”di tempat saya aja, lebar-lebar lagi.”
“Diam lu, dongo!” bentak si Bapak pada pemuda  ceriwis yang langsung ngeloyor pergi. “Ada perlu apa, Neng?”
Kami lalu menanyakan gadis kecil ‘adik’ Icha pada si Bapak, lengkap dengan ciri-cirinya yang kuhafal. Bapak itu diam sejenak. Barangkali bingung dengan kehadiran kami yang mendadak.
“Si Neng siapanya?”
“Saya kakaknya, Pak” potong Icha. Senyum optimisnya lagi-lagi terkembang, munculkan cekungan kecil dikedua belah pipinya.
Si Bapak dengan heran menatap kami.
“Pak, Insya Allah, kami gak punya maksud jelek,” Nunu memberi pengertian.
Ada benarnya juga. bagaimanapun kami orang asing, jadi biasa saja menimbulkan salah paham.
“Ya, Pak. Kami datang kesini justru karena kangen dengan anak itu,” Ifa coba-coba mencairkan suasana.
Si orang tua bertambah bingung. Meski akhirnya dengan suara lemah dia menyuruh kami mengikutinya.
“Sini!”
“Kenapa ramai begini? Memangnya ada apa Pak?” tanya Ifa
Bapak itu hanya diam. Dia berjalan ke pintu. Di belakang kami mengikuti.
“Silahkan, Neng. Itu Emaknya!” tunjuk si Bapak yang segera berlalu.
Setelah mengucap salam, kami pun masuk. Jujur saja, aku merasa ada yang aneh dengan sikap si Bapak tadi.
“Permisi, Bu!” kata Icha pada seorang perempuan berumur tiga puluhan, yang sedang duduk dengan wajah acuh. Ditangannya terselip sebatang rokok filter, kelihatanya baru dinyalakan.
“Ada apa?” tanya perempuan itu dengan ketus.
Tatapannya penuh selidik, entah heran atau curiga melihat kehadiran kami.
“Surga ada, Bu? Eh, maksud saya....,” Icha ragu untuk meneruskan.
“Surga?” Kok lu nya surga ke gua?” jawab perempuan itu seenaknya. Sepertinya tersinggung karena kami menggangunya.
Lalu mulutnya yang kehitaman karena nikotin, menghisap lagi rokoknya dengan nikmat. Dan menghembuskan gumpalan asap putih kecoklat-coklatan itu ke udara. “Kenapa gak dateng ke guru ngaji aja? Atau ustad?”
“Maaf. Maksud kedatangan kami ke sini, ingin bertemu anak Ibu,” aku mencoba memberi penjelasan.
“Ya. Sekalian minta ijin,” tambah Icha.
Tapi belum sempat kalimatnya berlanjut, kucolek lengannya. Icha yang paham isyaratku langsung terdiam,
“Boleh?” aku memohon lagi.
Si Ibu menatap kami satu per satu. Sisa-sisa make-up-nya masih tampak jejal, meski berbanding terbalik dengan ekspresi wajahnya. Perempuan itu, masih dengan tampang acuh, berjalan ke ruangan tengah.
Kami yang mengikuti, sempat melirik. Ruangan itu begitu sumpek dan kumuh. Semua benda-benda yang ada: bangku dan meja kayu, gelas-gelas, teko, ember, dan sebuah radio kecil, nyaris membuat sakit mata orang-orang kaya yang pelit. Tak ada foto keluarga, apalagi lukisan dinding. Yang ada hanya sebuah kalender kusam bergambar gedung mewah bertingkat, yang dipaki untuk hiasan.
“Tuh....di situ!”
Kata perempuan itu setengah membentak.
Kami menghampiri pembaringan yang ditunjukan perempuan itu. Dia sendiri duduk di sebuah bangku kayu, yang ada di sisi ranjang. Matanya menerawang keluar, melewati lubang pintu.
“Biar cuma anak pungut, tapi gua sayang bener anak itu,” lagi dia bicara, seolah pada dirinya sendiri. Tapi kali ini nyaris tak ada emosi di dalamnya. Suara yang keluar pun bagai mengalir di sebuah permukaan datar. ”Kalau tau begini, gak bakal gua mau hidup sama laki-laki jahat itu!”
Aku sebenarnya heran mendengar gerutuannya. Tapi sosok yang tertidur di atas pembaringan, dan berselimut rapat macam orang terserang demam itu, jauh lebih menarik perhatianku. Aku semakin mendekat. Sementara Icha, Nunu dan Ifa beberapa langkah di belakang.
“Nik” bisik Icha.
Aku menoleh. Icha, Ifa dan Nunu memandangku, seolah memberi isyarat.
Hatiku berdgup kencang. Perlahan kusingkap sebagian kain yang menutupi wajah Surga. Lama aku memandangnya.
“Gimana, Nik?” bisik Icha penasaran, yang melihatku terdiam saja.
Kutatap Icha.
“Gimana?”kejarnya Icha lagi.
“Dia sedang tidur,” jawabku, dengan suara yang mirip keluar dari sumur tak berdasar, “Sebaiknya jangan kita ganggu!”
Ajakanku terlambat. Icha tanpa ragu mendekat, dan langsung membuka kain yang menutupi wajah bocah kecil kami. Sesaat kemudian Icha terpekik.
Ya. Di atas pembaringan itu, di balik kain lusuh itu, Surga terbaring beku. Ada banyak lebam-lebam kehitaman di wajahnya. Mata Surga kecil terpejam. Tapi aku yakin dia bahagia. Sebab kini dia menemukan Pencinta Sejati, yang akan memberikannya kasih sayang tanpa batas.

Pengarang : Biru Laut
Kirimkan kisah atau pengalamanmu yang paling berkesan,
dan menginspirasi ke email
sertakan NAMA, KONTAK & ALAMAT LENGKAP

Bagikan

Jangan lewatkan

Ciuman Buat Surga
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.