Laki-laki itu berjalan dengan tertatih-tatih, mendekasi sekerumunan pemuda yang sedang berada di sebuah gardu ronda pinggir jalan. Kaki kanannya yang cacat sejak lahir itu membuatnya terlihat kelelahan. Dari wajahnya yang bersih justru menampakan sebuah kegamangan.
“ teman-teman, si pincang datang nih, ayo kita pergi” teriak salah seorang dari mereka ketika ia hampir sampai di gardu.
Seketika itu juga, parar remaja itu meninggalkan gardu. Ia hanya bisa duduk lemas sambil memandangi mereka yang pergi meninggalkannya.
Ia sedih sekali.
“ ya Allah, mengapa mereka selalu menjahui ku hanya karna ketidak sempurnaan ku ini’, jerit batinnya lirih. Matanya mulai berkaca-kaca.
“ woy pincang, ngapain lo bengong begitu. Ntar lo bisa kesambet setan loh” pekik si Panji tetangganya ketika lewat di depan gardu sembari tersenyum.
Setelah tak berselang lama setelah Panji berlalu, lewatlah serombongan anak kecil yang hendak bermain bola di lapangan di seberang gardu ronda itu. Melihat laki-laki itu, anak-anak terlihat berbisik-bisik satu sama lain. Dansejurus kemudian mereka menyayikan sebuah lantunan lagu yang berisi tentang hinaan kepada laki-laki tersebut.
Hati pemuda itu terasa teriris-iris, bagai disayat pisau. Matanya basah menahan sedih, tubuhnya gemetar menahan amarah. Berulang kali ia membaca istighfar untuk menenangkan hatinya.
Lalu, perlahan ia bangkit dan berjalan kembali kerumahnya.
“ Budi, darimana saja kamu?”tanya ayahnya dengan nada keras.
“ main ke gardu pak, habis dirumah bosen” jawabnya dengan nada bergetar karena ketakutan.
“ bukannya sedah Ayah bilang, tidak usah pergi-pergi. Membuat bapak mali saja” bentaknyadengan muka memerah.
“ tapi pak saya kan ingin bergau dengan teman-teman. Mengapa Ayah melarang?” pinta Budi ddengan sedikit memelas.
“ O, jadi kamu sudah mulai berani melawan Ayahmu ya!”
Seketika itu juga, tangan Ayahnya Budi hendak memukul kepala anaknya semata wayang itu. Tetapi, di saat bersamaan ada tangan yang sigap segera memecahnya.
“ apa-apaan ini, saya tidak rela Mas berbuat kasar kepada Budi”
“ tapi dia itu tidak mau menurus sama orang tua, Sri”
“ Bagaimana pun, Budi itu anak kita Mas. Apa hanya karena ia cacat ,lantas Mas bisa bertindak semuanya kepada dia. Tidak!! Akku tidak akan pernah mengizinkan Mas untuk menyakitinya”
“ aku tidak mau tahu, pokoknya dia tidak boleh pergi-pergi sesuka hatinya. Titik” tegas ayah Budi dan segera berlalu meninggalkannya.
Budi segera manghamburkan diri memeluk ibunya. Ia segenap menumpahkan semua yang dirasakannya melalui air mata yang mengalir deras di pipinya, yang membuat ibunya ituk merasakan apa yang telah Budi rasakan.
Setelah ia selesai menunaikan rangkaian salat, Budi melantunkan dzikir. Sejenak ia menadahkan tangannya ke langit.
Ya Allah, aku ridha dengan kekurangsempurnaan fisikku. Ya Allah, berikanlah aku seseorang teman yang bisa menemaniku, menghiburku. Jangan Engkau biarkan semua orang membenciku. Amin.
Baru saja tangannya di usapkan ke wjahnya, terdengar suara ketukan pintu. Berbegaslah ia ke depan untuk membukakannya.
“oh, ternyata kamu toh, Mad. Mari-mari silahkan masuk!”
“ bagaimana kabarmu Bud, lama sekali tidak bertemu ya?” tanya Ahmad penuh persahabatan.
Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong ada apa gerangan sampai kamu jauh-jauh datang kemari?”
“ ah, mengapa kamu mesti bertanya seperti itu. Bukankah aku ini teman baikmu, teman ketika SD dulu. Sudah barang tentu aku kangen padamu-lah” senyum Ahmad mengembang, wajahnya berseri menampakan kehangatan dan cinta kasih. “ oh ya, ini aku bawakan hadiah untukmu” sambungnya seraya mengulurkan sebungkus kotak kecil bermotif batik.
“ aduh, jadi merepotkanmu saja. Boleh aku buka sekarang?” tanya budi dengan mimik sumringah.
Ahmad hanya mengangukan kepalanya saja. Lalu ia mengamati si Budi membuka kado itu. Begitu terbuka dan melihat isinya, budi sedikit kaget dan berteriak kegirangan. Ia mendekap hadiah itu sembari memejamkan mata.
Ya Allah, Engkau memang benar-benar Maha Adil. Engkau kirimkan seorang penghibur kepadaku. Ternyata tak semua orang membenciku. Dan lidahnya tak berhenti mengucapkan syukur! Alhamdulillah.
Bagikan
Kado Terindah
4/
5
Oleh
Unknown
