Saturday, 5 March 2016

Getar Dawai Hati




Jarum jam serasa diganduli malaikat. Bagiku, kajian pagi ROHIS sangat membosankan. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Tak ada yang masuk ke pikiran, apalagi sampai ke hati. Kalau tak karena mas gagah itu, aku tidak berangkat.
                Aku clingak clinguk mencari mas gagah. Tidak ada. Hatiku bertanya, apa dia absen hari ini? No way. Dia kan ketua ROHIS, mana mungkin absen kajian. Dia selalu hadir tepat waktu. Mengapa kali ini tak kunjung datang ? berjuta tanya menghinggapi benakku.
                Sementara, pak ustadz yang sekaligus pembina ROHIS masih melanjutkan tausyiah. Tiba-tiba terdengar suara, “Assalamuallaikum”. Suara itu sangat tidak asing bagiku. Suara Khas yang indah memasuki telinga ku dan seketika membuat seluruh syaraf tubuh ini bersemangat.
                Kuarahkan pandangan padanya sekilas. Kubenahi cara dudukku. Kurapihkan jilbabku berharap ia melihatku, barang satu detik. “Afwan, saya terlambat, tadi ban motor bocor di jalan”, Katanya pada forum.
                Entahlah, sumpah, salahtingkah. Muncul rasa khawatir dan penasaran. Bagaimana bisa motornya bocor? Kena paku? apakah dia sampai jatuh? Di mana motornya bocor? Apa ditengah jalan raya? Terus kalau tertabrak gimana? Seperti di film kartun, kepalaku sudah mucul tanda tanya beribu, thuing thuing. Haduh, rasa penasaran dan rasa khawatir merasuki diriku. Mungkin aku lebay, tetapi itulah yang kurasakan.
                Reza Mahardika Pratama. Ya, dia dalam anganku kusebut sebagai mas gagah. Dia kelas 3 SMA, sementara aku baru kelas 1 SMA . jika ditanya alasannya, aku tidak bisa menjawab, hadirnya selalu membangkitkan semangatku berdakwah di sekolahan.

Jam 10 malam

                Telelet...hp berbunyi. Tanda ada pesan masuk. Dengan menahan kantuk, kubuka inbox. Dari Lala, teman sebangkuku. “Rin, maas Reza kecelakaan. Skarang dirawat di RS”.
                Ku kucek-kuce mataku puluhan kali. Ku ulangi membaca pesan singkat itu sampai lima kali. Mungkin aku salh baca karena mengantuk. Ternyata aku tidak salah baca!
                Seketika, ku telpon Lala. Aku langsung minta tolong bapakku untuk mengantar ke rumah sakait. Setengah jam perjalanan.
                Kulihat pak Mansur pembina ROHIS sudah berdiri di depan pintu UGD. Beberapa guru kelas dan temen-temen ROHIS berjajar. Juga orang tua Reza. Wajah mereka sendu.
                Aku langsung mendekati pak Mansur. “Pendarahan di kepala. Kata dokter, sangat kritis”.

                Bulir kristal bening membasahi kedua pipiku. Semakin lama semakin deras. Aku bersandar di dinding rumah sakit. Badanku lemas, seperti tak berdaya berbuat apa pun. Mungkin aku paling dramatis diantara yang lai di ruangan itu. Hingga orangtua Reza mendekatiku.

Keesokan harinya
Di kelas, pembicaraan semua siswa bertema tentang kecelakaan Reza semalam. Kedua mataku seperti mata panda karena semalam banyak menangis.
Jam kedua, mata pelajaran Fisika. Beberapa saat kemudian, pak guru mengabarkan kalau Reza tidak tertolong.
Innalillahi wa inna illahi raji’un. Hatiku seperti dihantam batu satu ton. Kami semua takziah.
Aku sulit menggambarkan bagaimana keadaan di rumah Reza saat itu. Hanya pilu yang bisa kukatakan. Mass gagah telah pergi untuk selama lamanya. Semuanya telah tertulis di Lauhul mahfudz. Termasuk hari kematian Reza itu.
Berulang kali ku hirup napas panjang untuk menenagkan dan menegarkan diri. Sambil hatiku tak berhenti berdoa.
Sepulang takziah, aku mampir ke sekolahan. Hanya untuk membaca ulang artikel Reza yang tertempel di mading ROHIS. Tepat di depan mushala sekolahan. Sebuah kalimat yang menancap di hatiku adalah “ Jangan berhenti berdakwah”
Kepergian Reza, membuatku benaar-benar sadar. Percik merah jambu yang kurasakan padanya, tak lain hanya membuat diriku riya. Berbuat  agar mendapat perhatian dan pujian darinya. Mengikuti kajian agar bisa bertemu dengannya.
Astaghfirullah, betapa kotor hati ini, berbuat bukan karena Allah. Sekarang, aku terbuka hati. Apa yang aku cintai didunia ini, tidak kekal abadi. Hanya Allah SWT. yang kekal abadi. Sudah sepatutnya berbuat karenaNya, bukan karena makhlukNya.

Terima kasih untuk kiriman saudara Najwa Aulia di Depok.

Apabila berminat kirimkan kisah atau pengalamanmu yang paling berkesan,
dan menginspirasi ke email
sertakan NAMA, KONTAK & ALAMAT LENGKAP

Bagikan

Jangan lewatkan

Getar Dawai Hati
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.