Tuesday, 9 February 2016

Pensil

“ Hey berhenti.... ” teriak ku
“ Tidak mau, kalau kau mau pensil mu kembali coba tangkap aku ”
Wanita itu membuat ku harus berlari setiap hari demi mendapatkan pensil ku. Ntah apa yang di pikirkannya . Setiap aku hendak melukis ia datang dan langsung mengambil pensil ku kemudian berlari sambil berteriak “ coba tangkap aku”.
Kisah ini dimulai minggu lalu ketika aku sedang sendiri di ruang klub melukis. Ku kira ia adalah salah satu anggota klub ia datang dan mengajak ku bebicara. Ia sangat berisik sehingga aku tidak dapat berkonsentrasi untuk melukis. Ia sering menceritakan tentang kehidupannya sehari-hari. Entah karena itu ia mulai mengubah strateginya agar mendapatkan perhatiannya dari ku.
“ Hap dapat,  sekarang sekarang kejar aku “
Ia mulai berlari ketika aku mulai meminta kembali pensil itu. Di raut wajahnya tersirat canda tawa yang belum pernah ku lihat darinya. Ia terlihat begitu bahagia ketika berhasil membawa lari pensil ku.
Akan tetapi aku tidak semudah itu memberikannya dengan langkah kaki yang cepat aku berhasil memegang tangannya.
“ Kena kau sekarang kembalikan pensil itu ”
Dengan bersikeras ia melawan dengan meronta-ronta seperti anak kecil. 
“ Tidak...tidak mau ” sambil meronta-ronta
Dengan halus aku memohon kepada dia untuk mengembalikannya. Dengan bersikeras akhirnya ia mengembalikan pensil itu. Saat kembali ke ruangan ntah kenapa aku kehilangan inspirasi untuk melukis. Mungkin karena kejadian tadi aku kehilangan semua ide ku  .
Kejadian itu terus berulang setiap hari sampai aku tidak dapat menyelesaikan lukisan ku dan akhirnya memutuskan untuk memberikan pensil itu kepadanya. Saat kuberikan pensil itu kulihat wajahnya tersenyum bahagia satu kata yang terucap dibibirnya.
“ Terima kasih “
Saat ia mengucapkan itu ntah kenapa terasa sesuatu yang aneh terjadi di dalam tubuhku, rasa yang belum pernah ku rasakan. “Apa yang terjadi padaku? “ teriak ku dalam hati.
Setelah kejadian itu sudah beberapa hari ia tidak terlihat. Akupun menjadi penasaran apa yang terjadi padanya. Akupun mendapat kabar bahwa dia sekarang sedang dirawat dirumah sakit karena sakit yang dideritanya sejak lama.
Keesokan harinya aku memberanikan diri untuk menjenguknya. Ku temui dia dalam keadaan yang sangat lemah. Ia  mengulurkan tangannya dan begitu terkejutnya aku melihatnya membawa pensil yang kuberikan.
“ ini milikmu kan, sekarang aku kembalikan” dengan suara yang berat
“ tapi itu aku berikan untuk mu”
“ tidak,  ini pasti lebih berguna untuk mu daripada diriku” jawabnya
Diulurkannya tangannya kepada ku. Aku pun tidak bisa menolak permintaannya. Saat tanganku menerima pensil itu dari tangannya. Aku hanya bisa terdiam melihatnya tersenyum disaat terakhir hidupnya. Tak terasa air mata telah mengalir dipipiku. Ia mengakhiri perjalanan hidupnya dengan senyum diwajahnya.
Dua hari setelah pemakamannya. Aku datang kemakamnya untuk memberikan sesuatu kepadanya
“ ini untuk mu semoga kamu suka dengan lukisanku, memang sedikit susah melukis wajah mu yang tembem itu dan ini ku kembalikan pensil yang kau berikan semoga kamu bahagia disana “  kata ku di depan nisannya dengan air mata yang tidak dapat aku tahan lagi .


Bagikan

Jangan lewatkan

Pensil
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.