Friday, 25 March 2016

Zen Ingin Bidadari



Kalau ada orang yang tidak menyukai Lebaran, barang kali cuma Zen-lah satu-satunya. Dia bukan anti pada hari raya yang justru paling ditunggu oleh sebagian orang itu.  Sebab biasanya selain digunakan untuk merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh berjuang, ada juga sebagian lagi yang menggunakanya untuk memamerkan seluruh ‘kemampuan’ ekonominya.

        Apa karena Zen malas puasa? Tidak juga. Dia justru sangat rajin beribadah dalam bulan suci itu. Dia jadi jauh lebih sabar, tak lagi gampang marah. Dia juga jadi lebih rajin bangun pagi. Padahal biasanya setelah Ibu kosan berkali-kali mengetuk pintu kamar, baru anak muda itu bangun. Dia pun jadi lebih sering mengunjungi mushola yang tak seberapa jauh dari tempat kosnya.

       “Hallo Mas Zen. Tumben berangkat pagi?”
       “mau taraweh ya, Mas?”
“Nanti ikut jadi panitia zakat mau, ya!”
Begitulah sebagian kalimat yang mengomentari perubahan Zen di bulan puasa. Lantas? Ya, lantas apa yang membuat anak muda itu jadi tak menyukai lebaran?

“Bukan lebarannya yang aku gak suka,” kata Zen suatu hari pada teman-temannya, ”tapi akibat yang harus kutanggung.”
Teman-teman Zen menggeleng kepala tak mengerti.

Mana bisa Lebaran membuat orang menanggung akibat yang tidak mengenakan? Apa pikiran Zen sudah keblinger? Barangkali karena lebaran Cuma sehari bukan sebulan, sehingga Zen tidak bisa bersenang-senang sepuas-puasnya? Begitu pikir teman-temannya, yang bukan kali ini saja melihat perubahan Zen, tapi perubahan itu tidak sedrastis seperti sekarang.

Tak jarang muncul perdebatan lumayan panas di ujung gang, yang tak jauh dari tempat Zen tinggal. Anak muda itu memang sudah lama berdiam disitu. Sejak dia meninggalkan kampung halamannya di Lampung Selatan dan menginjakkan kaki di Jakarta, sehingga dia dapat pekerjaan di sebuah perusahaan film sebagai penata artistik.

“Jangan-jangan Zen ikut aliran yang gak bener,” kata seorang temannya,“soalnya sekarang kan susah membedakan yang putih dengan yang abu-abu.”

“Atau dia sedang menyebarkan aliran baru, tapi masih grogi,” tebak teman Zen lainnya, “namanya juga masih baru, ya cari form-nya yang tepat kan susah.”

“Kalau betul, kita harus memberi peeringatan jangan sampai dia tersesat. Kasihan, bagaimana dia teman kita.”
“Barangkali pengeluarannya jadi lebih besar kalau Lebaran, sehingga dia tidak bisa menabung,”
“Apa karena setiap lebaran dia mesti membagi-bagikan duit kepada anak-anak gang sini, terus dia merasa rugi?” serobot yang lain.
“Hus! Jangan sembarangan nuduh gitu.”
Menjelang Magrib perdebatan berhenti sendiri, tak ada keputusan apa- apa. Tak ada yang mulai berani bertindak untuk memperbaiki keadaan. Semuanya merasa sungkan karena Zen, meskipun bersikap baik, dalam hal yang satu ini tertutup bukan main.
--><--
Mendekati Lebaran, Zen makin gelisah. Tingkahnya jadi serba kacau. Selalu saja ada yang salah kalau dia melakukan sesuatu. Jika tidak kekurangan, pasti kelebihan. Pokoknya tidak ada yang pas.
Meskipun begitu Zen tetap puasa dan rajin ke mushola. Cuma kalu biasanya setelah tarawih Zen menyempatkan diri ngobrol-ngobrol dengan jamaah lain, belakangan ini terutama mendekati akhir-akhir puasa, dia langsung balik. Lalu mendekam dalam kamar sampai pagi. Esoknya dia berangkat kerja seperti biasa. Tapi keriangan Zen nyaris hilang. Kalau bicara seperlunya saja, dan nyata sekali sekedar basa-basi.

“Ini gak bisa didiamkan!” kata seorang teman yang paling sering ditraktir nonton oleh Zen. “Dia bukan Cuma teman akrab kita, tapi juga warga teladan gang ini. Coba bayangkan, siapa yang paling rajin ngasih sumbangan kalau ada acara agustusan? Atau kalau ada acara Maulid Nabi? Dia bukan Cuma nyumbang dana, tapi pikiran dan tenaga.”

“Betul. Siapa yang mula-mula bikin kegiatan buat anak-anak muda sini yang doyan ngobat dan teler? Siapa yang pertama bikin kegiatan teater? Siapa yang ngadain tenis meja? Siapa yang jadi pelopor tawuran antar kampung?”

“Hus! Yang terakhir jangan dibawa-bawa dong! Lagian kalau itu kan yang melopori bukan dia”
“Fitnah itu!”
“Maaf...maaf...kelepasan, Man.”
“Belum lagi kalau ada tetangga yang kena musibah, dia juga orang yang selalu turun tangan lebih dahulu.”
“Jadi gimana?”
“Kita harus tanya dia. Kita korek sedalam-dalamnya, apa yang membuat dia bersikap begitu. Kalau tahu sebabnya, maka urusannya jadi gampang.”
“Kalau dia gak mau?”
“Kita paksa. Kalau perlu dengan kekerasan supaya dia mau mengaku. Jangan takut salah, sebab tujuan kita benar. Gue yakin semua orang mendukung.”

Akhirnya setelah melalui perdebatan yang cukup rumit dan sempat bikin urat leher tegang, disepakati untuk melakukan investigasi diam-diam, sebab kalau terang-terangan, jangan-jangan Zen malah tersinggung.

Ada yang bertugas mengamati Zen selama 24 jam penuh. Tentu tak berlaku kalau Zen ke toilet atau ke kamar mandi. Ada yang mencatat siapa-siapa saja yang datang bertamu ke rumahnya. Ada yang mencatat apa saja yang diucapkan Zen, bagaimana emosinya, tekanan suara sampai kata yang paling sering keluar dari mulutnya. Ada juga yang bertugas menyelidiki warna-warna pakaian yang paling sering dikenakan Zen.

Bagaimana dengan Zen? Anak itu tentu saja sangat ngeh, kalau dia menjadi objek penelitian teman-temannya. Tapi pikirannya terpusat pada hari Lebaran yang tinggal hitungan jari.

Di ruangan kamarnya yang ukuran tiga kali tiga meter itu sudah bertumpuk berbagai kaleng makanan. Dari yang isinya biskuit biasa sampai cemilan untuk orang-orang kaya. Belum lagi botol-botol sirup berjejer dengan berbagai merek dan warna. Sepuluh gepok uang recehan seribu yang baru saja ditukarnya, tak lupa dia taruh di atas meja kecil, di samping televisi. Beberapa bungkus pakaian untuk kerabatnya pun sudah dia siapkan. Pokoknya serba komplit.

“Apa pun yang terjadi, aku tidak mau!” tegas Zen pada Partam.
Kebetulan sore itu, Partam teman sekolah sekaligus tetanga di kampungnya yang sama-sama merantau ke Jakarta, berkunjung ke tempat kos Zen untuk mengajak pulang bersama.
“Lantas aku harus bilang apa sama orang tuamu?” tanya Partam.
“Terserah!”
“Jangan gitu dong, Zen,” Partam merendahkan tekanan suaranya. Dia tahu Zen orang yang baik dan gampang mengalah. Tapi jika sudah menyangkut urusan pulang kampung di saat Lebaran, maka jangan harap mau berkompromi, “ya sudah, kalau kamu maunya seperti itu, sebaiknya aku juga tidak pulang,”
“Kamu harus pulang!” kata Zen.
“Kenapa harus?”
“Supaya ada yang bisa kasih laporan sama orang tuaku.”
“Kan, bisa telepon.”
Zen menggeleng.
“Tuh, aku sudah sediakan semuanya!” Zen menunjukan barang-barang untuk bingkisan Lebaran yang ada di kamarnya, “ongkos kamu, juga oleh-oleh buat Emak dan Bapak,”

Partam diam saja. Tampangnya dipasang lebih serius dari sebelumnya. Dia perhatikan wajah Zen dengan seksama, layaknya bocah SD di Planetarium TIM, sedang mengamati benda luar angkasa yang belum pernah dilihat sebelumnya. Sementara yang diperhatikan pasang tampang cuek.

“Zen. Sebetulnya apa yang bikin kamu segan pulang?”
Zen menatap Partam. Dia menarik nafas sebentar.
“Kalau sudah menikah!” jawab Zen tegas, “kalau belum, orang tuaku pasti selalu menodong dengan pertanyaan, mana calon istrimu? Si Anu saja yang lebih muda sudah punya momongan, masak kamu menikah saja belum. Kamu mau Emak dan Bapak meninggal dulu, baru kalau pulang bawa istri?”

Jujur! Sebenarnya Zen tak mau bercerita, terutama jika menyangkut alasan yang menyebabkan dia menolak merayakan Lebaran dia kampung.
“Dari dulu juga bilangnya mau cari istri, mau menikah. Tapi usahanya mana? Mencari saja tidak pernah.”

Tidak pernah mencari? Partam salah besar. Seperti umumnya anak muda lain, Zen pun pernah beberapa kali berdekatan dengan gadis-gadis, meski tidak bisa disebut pacaran. Zen bukan menolak, apalagi anti pacaran. Dia mendekati gadis-gadis itu untuk mengamati dan menilai, apa ada diantara mereka yang cocok untuk dijadikannya sebagai istri.

Dia pernah mendekati Lia, tetangga kosnya yang masih keturunan Manado Jawa. Anak baik dan perhatian. Pendidikannya lumayan dan kerja kantoran pula. Zen rajin menegurnya dengan ramah, dan gadis itu tak kalah ramahnya terhadap Zen. Tapi baru beberapa minggu Zen sudah mundur. Pasalnya Lia pernah mengatakan, entah sengaja menyinggung atau tidak, bahwa dia bercita-cita mencari suami yang punya kerja lebih mapan, ketimbang dirinya yang Cuma pegawai kantor biasa.

“minimal direktur!” tegas Lia.
Untungnya waktu itu Zen belum mengungkapkan apa-apa, terutama yang berkaitan dengan cinta. Jadi dia tenang-tenang saja dan tidak merasa ditolak.

Lainnya. Zen pernah juga diam-diam menaruh hati pada Tika. Juga anak kos yang peranakan Bandung, lulusan Fakultas Hukum Unpad dan suka bergaya tomboy. Orangnya putih dan mungil. Cerdas dan punya jiwa sosial yang tinggi. Tapi belum juga ke tingkat pedekate, Zen sudah ambil langkah balik. Apalagi soalnya kalu bukan Tika yang aktivis itu ternyata juga feminim tulen, yang ogah gampang tahluk dengan kaum pria. Belum lagi sarat lainnya, mengharuskan laki-laki pendamping hidupnya mesti seorang aktivis, yang berfikir progresif revolusioner. Wuah berat!

Ada juga Wenda, Ayu, Sarah, Nina, Fifi, Lidya dan seabrek nama lain. Tapi hasinya sama saja. Kalau bukan karena masalah materi, pasti yang dicari gadis-gadis itu tidak jauh dari kesenangan yang kasat mata.

Jangan-jangan Zen terlalu mendiskreditkan mereka? Atau Zen kurang pede lantas bilang mereka bukan tipe Zen? Salah, salah dan salah! Zen suka dengan gadis yang enerjik, kreatif, pintar. Dia juga tidak peduli kalau gadis itu aktifis seperti si Tika, atau pemain sinetron kelas kacang macam Ayu. Yang jadi masalah ialah ada sesuatu yang Zen dari mereka, dan itu tidak ada. Zen tidak menemukannya.

Ah. Kamu sok idealis! Begitu komentar teman-teman yang menganggap Zen terlalu pemilih. Tetapi dengan enteng Zen menjawab, ini bukan soal idealis, ini masalah prinsip!
“betul kan yang aku bilang,” suara Partam menyerentak Zen, “kamu memang tidak pernah mencari?”
Bukannya menjawab, Zen malah tiba-tiba menengok ke arah jam weker di sidut meja yang menunjukan pukul stengah lima, lantas buru-buru berdiri. Lalu memandang keluar jendela lewat celah krei yang dia buka sedikit. Matanya memicing, tak ubahnya kucing yang sedang mengamati buruan.

“kamu bukan....”
“stttt....” zen menyuruh Partam diam.
Partam dengan penasaran ikut-ikutan mengintip keluar. Tapi matanya yang dilapisi lensa minus empat tak menangkap siapa-siapa, atau kejadian aneh apa pun. Selain seorang perempuan tua yang keluar dari rumahnya.


Zen terus menatap keluar jendela. Tingkahnya betul-betul menggelikan. Kadang seperti orang yang mendadak kena sesak nafas, kadang juga mirip orang mendapat tanah warisan tujuh hektar. Tak lama mendengar Zen mengeluh pelan, “ah, tidak keluar juga.”
“ada apa?”
Zen menggeleng lemah, lantas duduk lagi.
“kamu belum menjawab pertanyaan tadi,” desak Partam, “istri?”
“aku belum dapat yang pas!” jawab Zen singkat.
“sebetulnya tidak masalah kamu nikah dengan siapa dan bagaimana bentuk mempelaimu. Yang penting waktu Lebaran kamu tak pulang sendiri, tapi bawa gandengan.”
Zen menggeleng lagi.
“jadi maunya yang bagaimana?”
“aku ingin bidadari.”

Partam bengong. Tak lama sobat kental Zen itu tertawa, ngakak luar biasa. Partam sadar betul, dia bukan orang yang punya pendidikan tinggi. Namun rasanya tidak perlu menjadi sarjana untuk mencerna kalimat Zen yang jauh dari masuk akal tadi.
“Memangnya ada Bidadari yang otaknya masih waras, mau sama kamu?” ujar Partam setelah meredakan tawanya.
“Ada”
Kali ini Partam membelalak. Bukan karena heran, tapi sama sekali tak menduga kalu isi kepala teman sekampungnya itu makin tak beres.
“Bidadari itu otaknya masih waras seribu persen,” kata Zen mantap.
“Kamu serius?”
“Seharian ini aku menunggu dia, tapi gak muncul-muncul. Kata ibunya, baru saja kamu lewat jendela tadi, Bidadari itu memang pemalu dan jarang mau keluar rumah kalau tidak penting sekali.”
“Ooo...Jadi kamu sebut Bidadari itu putri ibu kos?”
Zen mengganguk.
“Sejak kapan kamu mengincar dia?”
“Sejak aku tidak menemukan apa yang kucari.”
“Dan lantaran frustasi, kamu terpaksa mendekati anak itu?”
“Bukan terpaksa. Aku sudah mengamatinya dia semenjak dia datang. Rasanya Bidadari itu cocok buatku. Kelihatannya kali ini aku sudah menemukan yang kucari, ”Zen menjelaskan dengan penuh semangat, “kamu tahu, aku anak satu-satunya. Jadi aku harus memberikan yang terbaik buat orang tuaku.”

Zen ingat. Gadis yang dipanggil Bidadari itu muncul di rumah ibu kos sehari menjelang puasa. Wajahnya manis, meski cara berpakaiannya masih dibilang konvensional. Dia gemar mengenakan jilbab dengan motif bunga kecil-kecil. Gamisnya lebar dan menjuntai ke bawah, mirip perempuan-perempuan Arab. Mukanya senantiasa tertunduk jika berpapasan dengna orang lain. Dan tangannya yang selalu memegang sehelai saputangan, tak pernah lepas menutupi sebagian mukanya.

Semula Zen bertanya-tanya, siapa gerangan gadis cantik itu. Tapi setelah tanya sana-sini, menggali informasi dari si A, B dan C, Zen tahu, kalau makhluk cantik bernama Bidadari itu merupakan anak bungsu ibu kos. Sejak lama menempuh pendidikan di sebuah pesantren di Jawa Timur. Dia datang berkunjung , selain karena kangen dengan keluarganya, juga ingin sesekali merayakan Lebaran di Jakarta.

“Cuma sayang,” Zen menurunkan tekanan suaranya, bahkan ucapannya lebih terdengar seperti keluhan. Rasa optimisnya yang tadi meledak-ledak tiba-tiba menguap, “menurut desas-desus mata Bidadari tidak bisa melihat dengan baik, itu sebabnya dia jarang keluar. Dia juga tak bisa bicara.”

Partam menyadari kalau sahabatnya masih menyimpan keraguan, cepat-cepat mengingatkan.
“Aku orang bodoh, Zen. Tapi sangat percaya, perjalanan waktu bisa menjelaskan mana Bidadari asli dan mana yang imitasi, ”ujar Partam dengan simpati, ”selamat berjuang!”
“Sebelum Lebaran tiba, aku sudah harus mengambil keputusan!” kata Zen dengan mantap, “melamarnya atau aku tidak bakal menikah sampai mendapatkan Bidadari pengganti.”


Tiga hari menjelang hari raya Idul Fitri, saat orang-orang sibuk menyiapkan segala keperluan untuk menyambutnya. Zen malah mendatangi rumah ibu kos ditemani Partam. Pakaiannya rapi, celana panjang hitam dipadu dengan baju koko berwarna biru muda. Kopiah yang baru tadi siang dia beli, terlihat bertengger di kepalanya.
Setelah mengucap salam dan basa-basi sekedarnya. Zen pun kini berhadapan dengan Ibu kos. Perempuan tua itu didampingi salah seorang kakak lelaki Bidadari, karena bapaknya sudal lama meninggal. Bidadari sendiri tidak kelihatan, mungkin memang sengaja tidak ikut hadir.
Zen yang tidak mau lama-lama, apalagi sidah kenal baik dengan keluarga itu, langsung mengutarakan niatnya. Ibu kos tentu heran. Sebab apa yang dilakukan Zen terbilang mendadak dan kurang lazim. Ibu itu mengira, karena besok Idul Fitri, maka  Zen datang untuk bersilaturahim karena akan pulang kampung. Ternyata kedatangan Zen untuk melamar anaknya. Namun setelah diberi penjelasan, baru Ibu kos mengerti.
“Jadi Nak Zen serius?” tanya Ibu kos lagi.
Bagaimana pun dia masih sangsi dengan kesungguhan niat Zen.
“Insya Allah, Bu.”
Kakak Bidadari nampak berbisik kepadanya. Ibu kos mengangguk perlahan. Lalu menengok ke arah Zen.
“Nak Zen sudah tahu kalau Bidadari Cuma gadis biasa? Cacat pula?”
“Sudah.”
“Masih mau?”
Dengan mantap Zen mengiyakan.
“Tidak menyesal di kemudian hari?”
“Insya Allah, tidak.”
“Tidak akan menyia-yiakan Bidadari jika nanti dia mengecewakan?”
Zen mangangguk
“Alhamdulillah. Sekarang tergantung pada Bidadari, apa dia setuju atau tidak tergantung niat Nak Zen.”
“Saya mau jawabannya sekarang!” kata Zen tak sabar.
Ibu kos percaya kalau Zen jujur dan bersungguh-sungguh. Jadi dia berpikir, apa salahnya kalau dipenuhi sedikit keinginan anak muda itu. 

 “Seandainya Bidadari tidak setuju atau menolak keinginan Nak Zen bagaimana?” tanya Ibu kos.
Zen diam.
“Zen,” bisik partam, “kalau dia menollak, kasih aku kesempatan untuk coba melamarnya, ya. Mana tahu aku lebih mujur.”
“Sssst! Teman dilarang makan teman!” bisik Zen menimpali.
“Bagaimana?” ulang Ibu kos.
“Oh..e..tidak apa-apa, bu,” jawab Zen gelagapan, “yang penting saya sudah berusaha.”
Ibu kos masuk ke ruangan dalam. Dan tidak berselang lama sudah kembali. Tanpa Bidadari.
“Ibu minta maaf,” ujar Ibu kos, nada penuh penyesalan, “Bidadari minta waktu. Mungkin habis lebaran baru bisa kasih jawaban.”
Zen lunglai. Tapi mau bilang apa?
Baca selengkapnya

Sunday, 20 March 2016

Berfikir Positif ?



Sudah berpikir positifkah kamu ?

Hidup adalah pilihan,setiap orang berhak memilih hidupnya seperti apa. Semua orang memilih ingin hidup bahagia tetapi tidak semua orang bisa hidup bahagia karena beberapa orang hanya bisa berkeinginan saja, padahal Kita sebagai umat Islam mengetahui bahwa “Allah tidak tidak akan merubah suatu kaum kecuali Ia mengubahnya sendiri”. Jika Kita bisa memahami kalam Allah itu pasti semua orang akan bisa hidup bahagia. 



Saya sebagai umat Islam terkadang juga sama seperti orang-orang yang lain karena keimanan Kita belum bisa seperti manusia pilihan Allah(Rasulullah). Tetapi bisa saja semua yang Kita inginkan terwujud akan tetapi apakah Kita yakin bahwa itu semua akan Kita dapatkan. Saya ini memiliki moto “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”,sekarang ini dengan moto itu Saya memiliki cita-cita yang mungkin orang anggap mustahil tetapi karena Saya yakin semua cita-cita dan impian Saya akan terwujud maka Saya semakin berani tuk bermimpi setinggi mungkin.

Semua itu berawal dari berpikir positif, jika Kita berpikir positif maka Kita mensugesti diri kita ini untuk melakukan hal-hal yang positif. Jika Kita berpikir positif untuk sebuah mimpi Kita maka sekarang Kita pasti akan melakukan hal-hal kecil yang positif sebagai tangga untuk mencapai mimpi besar Kita tersebut.


Sekarang ini Saya sendiri sedang belajar berpikir positif karena dari buku yang Saya baca bahwa berpikir positif itu sangat baik untuk diri Kita. Sekarang ini Saya berada diambang kebingungan untuk mengambil keputusan karena sekaranglah Saya harus berpikir kelak nanti Saya harus menjadi apa, bekerja sebagai apa dan memiliki keluarga seperti apa.

Sekarang ini Saya sedang berpikir bahwa ketika lulus dari SMK Saya harus menimba ilmu lagi tetapi sekarang ini Saya belum bisa berpikir positif apakah kelak nanti ketika Saya lulus dari Perguruan Tinggi Saya bisa bekerja dengan skill yang Saya kuasai atau diluar skill yang Saya kuasai. Tetapi Saya tahu bahwa semua itu butuh proses,Kita harus beripikir positif bahwa suatu saat nanti Kita pasti bisa dan sekarang ini Saya memilih berpikir positif untuk hal-hal yang akan terjadi di diri Saya sekarang terlebih dahulu, karena jika sekarang Kita sudah berpikir positif untuk hal-hal yang akan terjadi sekarang, pasti Kita akan berpikir positif untuk hal-hal yang akan terjadi suatu saat nanti.
Seperti yang Saya bilang bahwa hidup adalah pilihan, Saya memilih untuk menimba ilmu kembali setelah Saya lulus dari SMK karena Saya tahu jika setelah lulus SMK Saya bekerja maka diri Saya akan malas untuk menimba ilmu, karena kebanyakan orang jika Ia sudah mendapatkan penghasilan sendiri Ia akan malas tuk menimba ilmu lagi. Saya memilih setelah lulus SMK tuk menimba ilmu kembali karena Saya tidak ingin bekerja menggunakan otot tapi Saya ingin bekerja menggunakan otak dan juga Saya tipe orang yang tidak suka diatur dan maka dari itu Saya berpikir bahwa jika Saya sekarang mengambil keputusan untuk menimba ilmu kembali bahwa suatu saat nanti Saya lah yang sebagai penyuruh bukan Saya yang sebagai disuruh.
Berpikir positif itu sangatlah baik dan Saya sendiri sudah merasakannya. Sekarang ini Saya sudah mulai cuek dengan hal-hal yang tidak berkaitan dengan Saya, karena Saya tahu setelah berpikir positif bahwa itu semua hanya membuat diri Saya hancur dan tidak akan bisa berkembang menjadi pribadi yang baik.
Menanamkan hal positif itu tidak perlu dengan hal-hal yang besar tetapi mulailah dengan hal-hal kecil karena semua itu berawal dari yang kecil. Apa yang Kita tanam sekarang tidak mungkin Kita memetik hasilnya sekarang melainkan Kita akan memetik hasilnya suatu saat nanti. Sama seperti Kita berpikir positif bahwa sekarang Kita tidak bisa apa-apa tetapi suatu saat nanti pasti Kita akan bisa,itulah jadikan sugesti untuk diri Kita agar diri Kita menjadi orang yang sukses suatu saat nanti dan menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab.

Penulis: NasaHeart’s
Terima kasih kepada NasaHeart’s yang telah mengirimkan karyanya.
Semoga tambah sukses dan jangan berhenti berkarya.
Kirimkan kisah atau pengalamanmu yang paling berkesan,
dan menginspirasi ke email
sertakan NAMA (boleh nama panggung)

Baca selengkapnya

Saturday, 12 March 2016

Ciuman Buat Surga






Assalamualaikum!” aku menyapanya. Tapi ntah untuk yang berapa kalinya, anak perempuan bertahi lalat manis di kening, yang kutaksir berumur tujuh tahun itu hanya menatap. Kuulangi salam. Tetap saja tak ada yang keluar dari mulut mungilnya, yang kadang bergerak-gerak tak menentu bagai ingin mengeluarkan sesuatu. Hanya matanya bulat hitam mengerjap-ngerjap tanda bahwa ia menangkap ucapanku.
Apa dia bisu?
Aku tersenyum dan membentangkan kedua tangan, mengisyaratkan aku tak mengerti apa maunya. Lalu kubuka pintu kamar kos. Namun saat menoleh ke anak itu lagi, Cuma kulihat pungungnya yang berlari menjauh.
Aku tak tahu dia anak siapa. Banyak anak sebayanya yang sering juga bermain di sekitar tempat tinggalku, yang baru kuhuni beberapa minggu. Tapi berbeda dengan anak-anak lainnya yang hanya selintas menatap. Anak perempuan tadi terus-menerus memperhatikan gerak-geriku setiap aku pulang kuliah. Bahkan tampaknya ia hafal, kapan aku keluar atau pulang ketempat kosku, yang jaraknya tak begitu jauh dari kampus.
Pernah suatu saat aku tak langsung masuk ke rumah. Tapi sengaja berdiri beberapa meter dari tempat bocah perempuan itu biasanya menunggu. Aku ingin tau apa reaksinya, jika aku tak muncul. Dan yang terjadi ? Ya, Tuhan. Tak sedikitpun anak itu beranjak dari tempatnya terus terpaku menatap ke arah rumahku. Baru waktu aku mendekat dan melemparkan senyum padanya, anak itu pun segera berlalu.
Anak aneh!
Suatu ketika kubawakan dia boneka kecil yang kubeli dari pedagang kaki lima, yang sering mangkal di Stasiun KA Podok Cina. Tapi tak tahu kenapa, anak itu malah tidak muncul.
Besoknya. Juga beberapa hari berselang, tetap tak kelihatan wajahnya yang mulai akrab. Mungkin dia bosan. Aku maklum, sebab dia tak beda dengan anak kecil lainnya, yang umumnya gampang jenuh dengan sesuatu. Namun hari berikutnya ketika aku pulang, anak perempuan itu malah muncul dan berdiri di tempat biasanya.
Salam kuucapkan. Dan seperti yang sudah-sudah dia Cuma diam. Kusuruh anak itu menunggu. Aku masuk sebentar dan keluar lagi dengan menggengam boneka, yang langsung kusodorkan padanya.
“Terima kasih,” katanya dengan suara nyaris tak terdengar.
Aku mengangguk. Inilah kalimat pertama yang kudengar setelah sekian hari bertemu, sekaligus menepis anggapanku yang mengira dia bisu. Aku baru saja ingin mengajaknya berbincang lebihbanyak, waktu ssadar bahwa ada lebam hitam di dekat pelipisnya dekat sudut mata.
“Kenapa?” jariku menujuk bagian tersebut. Anak itu tersenyum. Lalu seperti yang sudah-sedah, dia membalikkan badan dan dengan berlari kecil segera menjauh. Tampaknya kegembiraan menerima hadiah yang tak terduga, jauh lebih memenuhi benaknya ketimbang memikirkan pertanyaanku.
Ah, dasar anak kecil. Kalau tidak karena jatuh pasti berkelahi. Mungkin itu sebabnya ia jarang bermain bersama teman-temannya yang lain.
--><--

“Anik!”
Aku berbalik dan menoleh. Beberapa meter di depanku seorang gadis cantik berhijab oranye berlari mendekat.
“Ya amplop, dipanggilin berkali-kali gak denger juga, memangnya kemanahin tuh kuping?”
Icha teman kuliahku satu jurusan, yang belakangan ini memutuskan pakai jilbab mendatangiku. Wajahnya bersemu merah terkena terik matahari.
“Pakai salam dong, Neng Manis!”tegurku.
“Iya deh. Assalamualaikum!”
Kujawab salamnya. Lantas kutanya ada apa dia tadi bertriak-triak memanggil, sebab setahuku Icha tak akan bertingkah seperti iyu jika tak ada sesuatu yang istimewa.
“Aku sudah dapet donatur yang bersedia  bantuin rencana kita,”ujarnya dengan senyum lesung pipit yang sering bibin greget.
“Trus?”
“Selain bantu, orang ini malah dengan senang hati mau ikut terlibat lanngsung. Hebat, kan?”
Ah, Icha yang berjilbab namun tetap gaul. Icha yang selalu membuat orang terkesan. Dan delakangan, malah gampang sekali terharu jika melihat penderitaan orang lain.
Dulu Icha seperti kebanyakan mahasiswi di kampusku. Gaul dan berkesan semau gue. Jins dan kaos ketat atau tankto, merupakan kostum favoritnya. Rambutnya dipotong pendek, nyaris mirip cowok. Anting yang menghias bukan hanya di kuping, jga di hidung. Warna rambutnya tiap minggu berganti-ganti, tergantung mood. Pkpknya ngetrend abis.
Sebagai anak satu-satunya, dari orang tua yang kaya raya pula, tentu saja Icha sangat dimanja. Bayangkan! Ke kampus saja dia pakai BMW. Dan seperti kebanyakan anak orang kaya yang dimanja, Icha pun terjebak dalam kehidupan yang serba permisive, meski belum ada tanda taraf kehilangan sesuatu yang dibanggakan sebagai gadis. Tapi obat-obatan dan beberapa jenis lainnya, hampir semua sudah dia coba.
Ssampai suatu ketika dia mengalami over dosis. Beruntung nyawanya tidak itut melayang, seperti yang sering dialamai penderita OD yang lain. Setelah menjalani perawatan cukup lama, Icha kuliah lagi.  Tai kali ini ada yang berubah, dia kehilangan kegembiraan dan jadi penyendiri.
Beberapa teman karibnya menjauh. Justru aku semula tidak dekat denganya, malah kemudian bergaul akrab. Entah mengapa aku merasa bahwa Icha sebenarnya anak yang baik. Jadi bagiku tak masalah berakrab-akrab dengannya.
“Hei, kok jadi bengong. Kagum ya lihat aku tampil cantik?”serentak Icha mengejutkan.
Kututup mulut menahan ketawa.
Aku pernah mendengar pertanyaan yang sama darinya. Dulu, saat Icha baru sembuh, tapi nadanya begitu kering. Waktu itu aku hanya tersenyum mendengar kelakarnya. Lalu kuutarakan niat untuk mengajaknya bergabung dengan pengajian kampus.
Icha menggeleng.
“Cha, kami kekurangan ornag yang bisa membantu dalam berhubungan dengan orang banyak,”kataku dengan penuh harap, ”ya...semacam humas. Setelah berdiskusi,kami sepakat untuk meminta bantuamu. Itu pun kalau kamu bersedia.”
Icha kelihatan berpikir sebentar, lalu.
“Oke, kita lihat, apa aku cocok.”
“Terima kasih”
“Kapan?”
“Sekarang!”
Icha memandang ragu. Sejurus kemudian senyumnya terkembang.
“Senyum kamu manis, Cha!”kataku tulus.
Sesampainya di masjid tempat kegiatan ROHIS biasa di laksanakan, Icha tampak kikuk. Barangkali karena kostumnya berbeda dengan yang kami kenakan.
“Cha, kamu gak perlu pakai jilbab kalau memang gak mau,” bisikku menenangkan,”kami sudah senang banget kalau kamu bisa bantu.”
Icha diam. Kami benar-benar khawatir dia mengurungkan niatnya, setelah melihat suasana yang berbanding terbalik dengan kesehariaannya.
“Boleh aku pinjam apa saja untuk penutup kepala?”pinta Icha.
“Iya!”jawabku, dan segera mengeluarkan jilbab kaos yang sering kubawa untuk persediaan ganti.
“Pinjam cermin!”katanya lagi.
Cepat kuraih tas dan memenuhi permintaanya.
Dia memperhatikan wajahnya di cermin, lalu memandang kami yang juga menatapnya dengan keheranan.
“Aku cocok gak pakai keridung?”tanya Icha serius.
Aku dan teman-teman mengangguk, kompak.
Setelah itu kami berkumpul untuk mengikutu diskusi rutin yang kami adakan. Pembimbingnya kali ini seorang penulis yang juga bergiat dalm dakwah lewat tulisan-tulisannya.
Di sela-sela diskusi, sesekali kulirik Icha yang duduk di sebelahku. Aku ingin tahu reaksinya mengikuti kegiatan,yang mungkin baru sekali ini dia ikuti. Tapi tampaknya Icha tenang-tenang saja.
“Orang seringkali mengukur kebahagiaan dengan banyaknya limpahan materi,”begitu kata Ustadzah kami di akhir pertemuan,”terus berpendapat bahwa sudah sewajarnya Allah memberi imbalan karena dia rajin beribadah.”
Aku melirik Icha lagi. Dia masih serius.
“sebagian orang kaya beranggapan, bahwa dosa-dosanya bisa ditebus jika dia menyumbangkan harta sebanyak-banyaknya intuk orang miskin. Kalau benar begitu, betapa kasiah orang miskin karena dia pasti tidak punya harta untuk menebus dosanya.”
Jujur! Entah kenapa aku tidak tertarik menyimak diskusi kali ini. Aku jauh lebih berminat, untuk memperhatikan sikap gadis berjins yang terpaku diam di sebelahku. Heh, dia tertunduk. Tak lama ada guncangan kecil di bahunya.
Ya Allah, bentangan sungai kecil mengalir dari mata indah itu, lumayan deras. Apa dia menangis? Entahlah.
“Nik. Kamu gak lagi kesurupan, kan?”
Icha melambai-lambaikan tanganya di depan wajahku.
“Sadar dong, Nik! Belum waktunya kamu berubah wujud, ini belum Magrib.”
Tawaku langsung meledak.
“Gak lah, Cha. Aku Cuma surprise aja denger berita dari kamu.”
Aku cubit pipinya dengan gemas.
“jadi?”
“Yuk, Kitarembukin lagi bareng yang lain.”
“Ee...Nik,” Icha terlihat ragu
“Kenapa lagi, Non?” aku penasaran, tumben semangatnya yang menggebu-gebu bisa langsung padam. Ini pasti ada apa-apanya.
“Rembukan di masjid?”Icha tanya lagi.
“Iya dong, mau kemana lagi?” aku makin heran.
“Sori, aku lagi ...anu...Palang Merah Internasional.”
Aku senyum
“Kalau gitu di kantin. Kamu calling yang lain, aku unggu sekalian nyiapin cemilannya.”
“Kamu kayak anak jaman dulu aja. Aku kan bisa pake ini buat ngubungin temen-temen,” Icha mengeruarkan Hp-nya.
Ya, ampun. Aku lupa kalau si jilbab oranye itu anak orang kaya. Hhh..jadi malu hati.
“Halo Icha!”tiba-tiba terdengar teguran seorang cowok.
Aku dan Icha menoleh.
“Kapan kita nonton bareng lagi?”
Andry si playboy karatan yang betah jadi mahasiswa abadi mendekat,”Udah lama nih kita gak nomat, ini kan hari Senin.”
Icha menunjukan tinjuannya ke arah Andry.
Andry bungkam dan langsung kabur. Dia tau, biarpun Icha sekarang pakai jilbab, tetapai gak bakal segan-segan mengeluarkan jurus-jurus karatenya, kalau ada orang yang berani menggangu.
Ah, dasar Icha!
--><--
Aku berjalan menuju rumah. Capek benar hari ini. Banyak tugas-tugas kuliah yang harus disellesaikan dalam waktu cepat. Belum lagi menghubungi Mama di Bandung, yang bilang sudah kangen berat. Atau membeli pesanan si bungsu Tia, adikku yang meski baru SMA tapi sudah gandrung sama buku-bukunya Torey Hayden.
“Assalamualaikum...”
Heh, aku terkejut dan segera sadar dari lamunan.
Aku menjawab salam, lalu berbalik. Di sana sudah berdiri ‘penggemarku’ seperti biasanya.
Tapi kali ini tak begitu kuhiraukan kehadirannya. Aku langsung membuka pintu kamar kos, bermaksud istirahat untuk sekedar mendinginkan otak. Aku benar-benar tak mau diganggu. Pintu sedah terbuka. Aku menoleh dan berharap seperti kemarin-kemarin, hanya punggungnya yang kulihat menjauh. Ah, ternyata bocah manis berambut keriting itu masih berdiri di sana.
“Sini!”aku mengajaknya masuk. Tak tega juga hatiku.
Gadis kecil itu menggeleng.
Aku mengeluarkan sebungkus permen kegemaranku dari dalam tas, dan menyodorkan padanya. Dengan ragu dia mendekat.
“Namamu siapa?” tanyaku.
Gadis kecil itu menganbil pemberianku, dan sesaat kemudian matanya berbinar. Wow, rupanya dia jauh lebih tertarik pada objek yang kini ada di tangannya, dibandingkan dengan menjawab pertanyaanku.
“Terima kasih!”dia mencium tanganku.
Tapi baru saja dia hendak berlari seperti biasa, cepat kuhentikan langkahnya.
“ini kenapa?” aku memegang kedua lengannya, yang dipenuhi oleh bilur-bilur merah kehitaman.
Gadis kecil itu sigap menarik tangannya. Wajahnya tertunduk.
“Kenapa?”tanyaku lembut dan hati-hati. Kepalanya yang tadi menunduk kudongakkan.
Astaga! Jeritku dalam hati. Aku segera memeriksa wajahnya dengan seksama. Sungguh tadi tak kuperhatikan betul, bahwa seperti ada beberapa benturan yang menimpa wajah bocah itu. Tapi apa? Apa dia terjatuh? Atau berkelahi?
“Kenapa? Ayo, ceritakan pada kakak!”
Gadis kecil itu tetap tak menjawab. Malah matanya yang juga sedikit sebab, berkaca-kaca. Kudekap dia. Tapi isaknya makin menjadi-jadi. Pasti ada yang disembunyikannya. Entah apa.
“kita masuk, ya!”
Anak itu menggeleng.
“Ceritakan! Mudah-mudahan kakak bisa bantu,”aku merayaunnya.
Lagi-lagi dia mengeleng.
“Kalau gitu biar kakak antar pulang,” ujarku lagi, dengan harapan gadis kecil itu akan tersenyum.
Sia-sia. Yang terjadi justru sebaliknya, dia malah terlihat ketakutan.
“Gak usah takut, kakak gak akan cerita apa-apa. kakak Cuma ingin Ayah dan Ibumu mengobati. Boleh?”
Gadis  itu mengedarkan panangan seperti takut ulahnya terlihat oleh orang lain. Sekali lagi dia mencium tanganku, kemudian cepat-cepat berlalu.
“Dik, tunggu!...Dik...!”aku mencoba menghentikannya. Tapi tubuh kecilnya sudah lenyap di balik tikungan jalan.
Aku terpaku keheranan. Seorang ibutua yang kebetulan melintas dan melihat kejadian itu segera menghampiri.
“Ada apa, nak?”tanyanya heran.
“Yang tadi anak siapa, Bu?”aku menunjuk kearah tempat si gadis kecil menghilang.
“O...Anak itu tinggalnya ndak jauh dari sini. Ngontrak di rumah Bu Haji. Ada apa?”
“Ibu kenal orang tuanya?”sedikit harapan muncul di hatiku.
“Ndak. Orang sini juga ndak ada yang kenal, sebab dia orang baru,” jawab si Ibu. Mungkin merasa aneh dengan pertanyaanku. “Orang tuanya tertutup banget. Kata orang-orang sih ibunya jadi lonte di pasar Jatinegara. Tapi bapaknya sering ada di rumah, kayak pengangguran.”
Aku mengangguk. Bukan memahami apa ynag diutarakan perempuanparuh baya tersebut, tapi lebih ingin mencoba memahami bayangan-bayangan yang saat ini bermain di kepalaku.
Ah, apa mungkin....
“Apa anak itu nyolong punya.....”
“Gak, Bu. Sama sekali gak ada yang mencuri,”
Aku sengaja memotong ucapanya, karena khawatir berakibat buruk pada anak itu,”terima kasih ya, Bu!”
“Ya, sama-sama!”
Tanpa menoleh lagi, perempuan berperawakan gemuk itu berlalu.
“Bu, tunggu!” aku menghampiri si Ibu yang baru beberapa langkah,”Ibu tahu siapa nama anak tadi?”
Sambil mengaruk kepalanya si Ibu menatapku.
“Orang sini Ndak ada yang tahu siapa namanya.”
Aku tersenyum sebagai ungkapan terimakasih, meski rasa bingung makin menyergapku.
--><--
Akhirnya selesai juga segala ujian semester. Aku, Icha dan teman-teman kembali berkumpul, untuk menyelesaikan rencana yang sempat tertunda.
“Ke kantin, yuk!”kata Icha
“Mau nraktir, neh?”Ifa menyambar.
“Kayaknya ada yang ulang tahun, ya?” tanya Nunu, si fatwoman yang biasanya langsung berkotek, kalau menddengar gratisan disebut.
“Gak...”Icha bicara lagi,”aku Cuma lagi ketiban sedikit rejeki.”
“Apa sih?”aku penasaran
“Eh, mau tau aja. Come on!” Icha menarik tanganku, dan segera diikuti yang lain.
Setiba di kantin, kami langsung mengambil tempat yang agak menyudut. Maklum, soalnya mau ngomongin proyek serius.
Setelah pesan ini-itu,
“Jadi gimana? Silahkan satu per satu memberikan laporan!”ucapku memulai.
“Aku sudah dapat beberapa donatur yang siap bantuin program kita,”Ifa mengeluarkan buku kecil dari tasnya,”Insya Allah, total dana yang bisa dikumpulkan cukup untuk memberikan bantuan tuju orang siswa SD selama setahun.”
Alhamdullilah!
“Kamu gimana?” kulirik Nunu, yang saat itu sedang siap-siap mencaplok pisang goreng.
“Ehm....aku berhasil mendaftarkan beberapa anak yang menurutku layak banget untuk mendapat santunan,” Nunu membuka catatannya.”Selain yatim piatu, ada juga anak yang ornag tuanya lengkap tapi sangat layak untuk di bantu.”
“Donatur?”
“Hehe...”Nunu nyengir kuda, “Insya Allah, menyusul.”
“Makasih ya, Nu. Icha?”
“Sorry. Aku gak menjalankan amanat kalian dengan baik,” kata Icha serius,”aku gak bisa cari donatur kayak Ifa sama Nunu.”
“Tapi kamu pernah bilang...”
“Maksudnya, aku memang gak cari ke yang lain. Aku Cuma cerita ke Nyokap, dan...” Icha menggantung kalimatnya.
Aku, Ifa dan Nunu diam. Kami tahu Icha memang anak orang kaya, tapi jujur saja kami belum kenal betul dengan orang tuanya, yang menurut kabar burung super sibuk.
Pernah beberapa kali kami mampir ke rumah Icha. Tapi kalau bukan pembantu yang menyambut, ya satpam atau supirnya. Pernah juga sekali bertemu dengan mamanya, tetapi Cuma say hello yang terdengar di tambah sedikit senyum, terus menghilang lagi.
Hm, niat baik kadang memang gak gampang dilaksanakan, ya?”
“Cha,” pelan searaku menegurnya.
Icha semakin menundukan kepalan, hingga kami tak dapat melihat perubahan ekspresi di mukanya.
“Cha”
Bahu Icha terguncang-guncang.
Gampang betul gadis ini menagis. Ah, aku jadi merasa bersalah karena sudah mengajaknya terlibat dalam proyek, yang sebenarnya jauh dari kesehariannya.
Tak lama Icha menegakan kepalanya. Mukanya cengar-cengir.
Heh! Kenapa lagi dia?
“Hihi...aktingku bagus, gak?”
Kami langsung cemberut. Tawa Icha makin keras.
“Cha,”kata yang duduk didekat Icha sambil memegang kening gadis cantik itu. Tampang Nunu di pasang memelas,” kamu jangan hilang ingatan dulu, ya! Kami masih memerlukanmu, paling gak setelah urusan di kantin ini selesai!”
Tawa Icha makin menjadi-jadi, sampai membuat beberapa pengunjung kantin yang lagi asik ngerumpi, menoleh.
“Begini,” Icha menghentikan tawa, tapi senyum manisnya masih berkembang. “Aku memang cuma cerita sama Mama soal rencana kita, dan ternyata Mama siap bantuin berapa aja yang kita perlu. Malah mau ikutan nanganin kalau pas lagi gak sibuk.”
Aku, Ifa dan Nunu menatap gadis cantik yang emosinya sering gak terduga itu.
“Aku bahagia banget,” kata Icha lagi, kali ini kelihatan serius. ”Sebab baru kali ini  Mama memberiakn perhatian pada apa yangg aku lakukan. Jadi yang membuat girang, bukan cuma kesediaan Mama buat ngebantu, tapi perhatiannya.”
Hm...aku mulai paham apa yang di rasakan Icha.
“Kami memang limayan mapan, tapi kami adalah keluarga yang kering banget dari nilai-nilai sosial,” lanjut Icha, “jadi dengan adanya sikap Mama yang begitu, aku jadi girang. Semoga Allah semakin membuka hati orang tuaku, serta selalu memberika hidayah pada kami.”
Kompak kami meng-amini doa Icha, dan langsung memeluknya.
Subhanallah, benar-benar tidak disangka.
“Dah ya pelukannya,” kata Icha yang sudah kembali keriangannya,”nanti di kira yang gak-gak.”
“Aku jadi malu sama kalian,”kataku akhirnya, “aku yang punya usul tapi kayaknya malah aku yang gak maksimal.”
“Kalau soal gak maksimal, dari dulukan memang udah jagonya. Hehe,” sela Ifa.
“Lanjut!” Nunu ikut nimbrung
“Aku sampai saat ini belum dapat seorang pun donatur. Tapi kalau daftar anak-anak yang perlu bantuan, wuih....sudah dapet sederet nih,” aku tidak mau kalah menunjukan catatanku, ”Cuma ada satu anak yang benar-benar bikin aku penasaran.”
Aku lalu menceritakan tentang gadis kecil ‘penggemarku’, yang biasa menunggu setiap aku pulang kuliah. Kuceritakan juga bagaimana pekerjaan orang tuanya seperti yang pernah kudengar.
“Dia selalu terlihat ketakutan. Kelihatannya terjadi sesuatu pada anak itu.”
Kemudian kujelaskan tentang bilur-bilur kehitaman, yang kuduga bekas-bekas benturan.
“Siapa nama anak itu, Nik?”tanya Icha penasaran.
Astaga. Bagaimana bisa, yang lain kucatat dengan lengkap. Sementara anak itu, yang bahkan setiap hari dengan setia menunggu, tidak kucatat namanya. Sungguh sebuah keteledoran yang tak bisa dimaafkan! 
“Namanya...duh, maaf!” ucapku dengan nada sesal, “aku gak tau namanya, malah aku belum sempat berkunjung kerumahnya,”
Ifa dan Nunu melotot ke arahku.
“Namakan saja Surga!” tegas Icha.
“Ah, kamu ada-ada saja”
“Aku ingin memanggilnya Surga,” kata Icha, tampangnya serius, “kalau mau jadi saudaraku, dia akan ku panggil Surga.”
“Nama yang bagus , Cha!” ujar Ifa.
“Aku ingin menemui anak itu. Aku mau mengangkatnya sebagai adik,” wajah Icha terlihat optimis.
Kupandangi gadis manis itu. Aku ingin menyelami lagi perasaannya.
“Kenapa?” Gak Boleh?” tanya Icha yang menagkap  keraguanku.
Aku mengembangkan senyum.
Sungguh! Icha adalah salah satu teman terbaikku, mana bisa aku tidak membantunya.
“Aku gak main-main. Kalian kan tahu aku ini anak semata golek. Aku pengen banget punya adik,” tandas Icha, “kalau perlu aku minta ijin sama bokap-nyokap, supaya dia tinggal bateng aku.”
“Aku akan membantumu!” kataku.
“Kalau boleh usul.....” Ifa menyela. Matanya yang bulat berbinar-binar, ”Maaf,jangan tersinggung gung!”
Heh! Mana kami tersinggung pada Ifa, yang tampangnya saja bikin orang selalu tersenyum.
“Kenapa gak minta adik sama mamamu saja?”
“Sudah sering aku minta. Tapi seperti kebanyakan orang sibuk, Mama gak mau karirnya terganggu sama rutinitas keluarga.”
“Kalau gitu, jadiin aja aku adik angkatmu!”
Huek!
“Kapan kita dapat bertemu anak itu?” tanya Nunu
“Secepatnya. Kalau perlu sekarang. Mudah-mudahan orang tuanya mengijinkan dia kuangkat menjadi adik.”
Icha tersenyum dengan wajah penuh harapan.
“Amin!”tambahku.
Kami lalu melanjutkan pembicaraan yang lainnya, agar semua rencana berjalan sesuai keinginan.
--><--
Sehari kemudian, aku dan Icha, juga Ifa ddan Nunu berniat menemui gadis kecil, yang kini sepakat kami panggil Surga.
Aku menoleh ke Icha. Wajahnya yang kini di balut jilbab biru muda semakin menampakan kecantikannya yang alami, yang menurut beberapa kawan di kampus sangat aristokrat.
“Daerah sisi memang agak kumuh,” jelasku pada teman-teman, ”maklum....termasuk pinggiran meskipun di sekitarnya banyak bangunan-bangunan mewah”
“Kamu nganggap kita makhluk steril yang anti kemiskinan, ya?” protes Nunu.
“Aku Cuma ngasih tau.”
Untuk kedua kali kulirik Icha yang berjalan tepat disampingku. Mukanya kelihatan girang betul.
“Sebentar lagi kita sampai. Kalian gak mau mampir ketempat kosku dulu?”
“Nanti ajah kalau aku sudah ketemu adikku. Okeh?”
“Gak mampir juga gak apa,” aku pura-pura ngambek.
“Jangan pasang muka begitu dong , Non. Putri cantikmu ini pasti akan mampir ketempatmu,” rajuk Icha, tangannya mencubit pipiku.
“Tau gak apa yang akan kulakukan kalau ketemu dia?” tanya Icha, tapi belum sempat aku membuka suara, gadis itu sudah menjawabnya sendiri. ” Aku akan memberinya sebuah ciuman manis. Satu di kiri dan satu di kanan.”
Wah. Kayaknya makin serius nih.
“Nanti, akan kuajak dia tidur di kamarku. Akan kuberikan sebagian besar koleksi mainanku,” Icha makin melambung, “kelihatannya menyenangkan juga punya adik, ya?”
Aku Cuma tersenyum.
Setelah melewati beberapa tikungan sesuai dengan petunjuk yang kani dapat, akhirnya sampai juga di tempat anak itu tinggal.
“Yang mana rumahnya, Nik?” tanya Icha tidak sabar.
“Kalau gak salah sih di situ!” aku menunjuk sederetan rumah kontrakan, yang bentuk bangunannya tidak beda satu sama lain.
“Kok ramai begitu?” Gak salah?”
“Kita tanya saja,” Nunu memberi usul.
“Permisi, Pak!” kataku pada seorang bapak tua yang sedang menyusun deretan bangku-bangku. Tampaknya agak sengaja di siapkan untuk sebuah acara.
“Ada apa, Neng?”
“mau cari tempat kos, ya?” tanya seorang pemuda dengan lagak genit, ”di tempat saya aja, lebar-lebar lagi.”
“Diam lu, dongo!” bentak si Bapak pada pemuda  ceriwis yang langsung ngeloyor pergi. “Ada perlu apa, Neng?”
Kami lalu menanyakan gadis kecil ‘adik’ Icha pada si Bapak, lengkap dengan ciri-cirinya yang kuhafal. Bapak itu diam sejenak. Barangkali bingung dengan kehadiran kami yang mendadak.
“Si Neng siapanya?”
“Saya kakaknya, Pak” potong Icha. Senyum optimisnya lagi-lagi terkembang, munculkan cekungan kecil dikedua belah pipinya.
Si Bapak dengan heran menatap kami.
“Pak, Insya Allah, kami gak punya maksud jelek,” Nunu memberi pengertian.
Ada benarnya juga. bagaimanapun kami orang asing, jadi biasa saja menimbulkan salah paham.
“Ya, Pak. Kami datang kesini justru karena kangen dengan anak itu,” Ifa coba-coba mencairkan suasana.
Si orang tua bertambah bingung. Meski akhirnya dengan suara lemah dia menyuruh kami mengikutinya.
“Sini!”
“Kenapa ramai begini? Memangnya ada apa Pak?” tanya Ifa
Bapak itu hanya diam. Dia berjalan ke pintu. Di belakang kami mengikuti.
“Silahkan, Neng. Itu Emaknya!” tunjuk si Bapak yang segera berlalu.
Setelah mengucap salam, kami pun masuk. Jujur saja, aku merasa ada yang aneh dengan sikap si Bapak tadi.
“Permisi, Bu!” kata Icha pada seorang perempuan berumur tiga puluhan, yang sedang duduk dengan wajah acuh. Ditangannya terselip sebatang rokok filter, kelihatanya baru dinyalakan.
“Ada apa?” tanya perempuan itu dengan ketus.
Tatapannya penuh selidik, entah heran atau curiga melihat kehadiran kami.
“Surga ada, Bu? Eh, maksud saya....,” Icha ragu untuk meneruskan.
“Surga?” Kok lu nya surga ke gua?” jawab perempuan itu seenaknya. Sepertinya tersinggung karena kami menggangunya.
Lalu mulutnya yang kehitaman karena nikotin, menghisap lagi rokoknya dengan nikmat. Dan menghembuskan gumpalan asap putih kecoklat-coklatan itu ke udara. “Kenapa gak dateng ke guru ngaji aja? Atau ustad?”
“Maaf. Maksud kedatangan kami ke sini, ingin bertemu anak Ibu,” aku mencoba memberi penjelasan.
“Ya. Sekalian minta ijin,” tambah Icha.
Tapi belum sempat kalimatnya berlanjut, kucolek lengannya. Icha yang paham isyaratku langsung terdiam,
“Boleh?” aku memohon lagi.
Si Ibu menatap kami satu per satu. Sisa-sisa make-up-nya masih tampak jejal, meski berbanding terbalik dengan ekspresi wajahnya. Perempuan itu, masih dengan tampang acuh, berjalan ke ruangan tengah.
Kami yang mengikuti, sempat melirik. Ruangan itu begitu sumpek dan kumuh. Semua benda-benda yang ada: bangku dan meja kayu, gelas-gelas, teko, ember, dan sebuah radio kecil, nyaris membuat sakit mata orang-orang kaya yang pelit. Tak ada foto keluarga, apalagi lukisan dinding. Yang ada hanya sebuah kalender kusam bergambar gedung mewah bertingkat, yang dipaki untuk hiasan.
“Tuh....di situ!”
Kata perempuan itu setengah membentak.
Kami menghampiri pembaringan yang ditunjukan perempuan itu. Dia sendiri duduk di sebuah bangku kayu, yang ada di sisi ranjang. Matanya menerawang keluar, melewati lubang pintu.
“Biar cuma anak pungut, tapi gua sayang bener anak itu,” lagi dia bicara, seolah pada dirinya sendiri. Tapi kali ini nyaris tak ada emosi di dalamnya. Suara yang keluar pun bagai mengalir di sebuah permukaan datar. ”Kalau tau begini, gak bakal gua mau hidup sama laki-laki jahat itu!”
Aku sebenarnya heran mendengar gerutuannya. Tapi sosok yang tertidur di atas pembaringan, dan berselimut rapat macam orang terserang demam itu, jauh lebih menarik perhatianku. Aku semakin mendekat. Sementara Icha, Nunu dan Ifa beberapa langkah di belakang.
“Nik” bisik Icha.
Aku menoleh. Icha, Ifa dan Nunu memandangku, seolah memberi isyarat.
Hatiku berdgup kencang. Perlahan kusingkap sebagian kain yang menutupi wajah Surga. Lama aku memandangnya.
“Gimana, Nik?” bisik Icha penasaran, yang melihatku terdiam saja.
Kutatap Icha.
“Gimana?”kejarnya Icha lagi.
“Dia sedang tidur,” jawabku, dengan suara yang mirip keluar dari sumur tak berdasar, “Sebaiknya jangan kita ganggu!”
Ajakanku terlambat. Icha tanpa ragu mendekat, dan langsung membuka kain yang menutupi wajah bocah kecil kami. Sesaat kemudian Icha terpekik.
Ya. Di atas pembaringan itu, di balik kain lusuh itu, Surga terbaring beku. Ada banyak lebam-lebam kehitaman di wajahnya. Mata Surga kecil terpejam. Tapi aku yakin dia bahagia. Sebab kini dia menemukan Pencinta Sejati, yang akan memberikannya kasih sayang tanpa batas.

Pengarang : Biru Laut
Kirimkan kisah atau pengalamanmu yang paling berkesan,
dan menginspirasi ke email
sertakan NAMA, KONTAK & ALAMAT LENGKAP

Baca selengkapnya